Implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) diharapkan dapat menyentuh aspek ekonomi masyarakat desa secara mendalam. Program ini berpeluang besar untuk menggerakkan sektor pertanian dan peternakan di tingkat lokal melalui perancangan rantai pasok yang memanfaatkan potensi daerah setempat. Dengan adanya program ini, potensi ekonomi di wilayah-wilayah yang selama ini sulit dijangkau dapat mulai digeliatkan secara mandiri.
Program Makan Bergizi Gratis di wilayah 3T dinilai memiliki potensi besar untuk membuka akses pasar baru bagi para petani serta peternak lokal. Kebutuhan bahan pangan yang diperlukan untuk menyuplai dapur-dapur MBG dinilai dapat mendorong peningkatan produksi pangan lokal sekaligus menciptakan perputaran ekonomi yang nyata di tingkat desa. Dengan adanya kebutuhan pasokan yang berkelanjutan untuk program ini, masyarakat di tingkat desa memiliki kesempatan untuk meningkatkan produktivitas hasil bumi dan ternak mereka.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Nusa Tenggara Timur (NTT), Bobi Lianto, memberikan pandangannya mengenai program ini pada hari Rabu, 19 Agustus 2026. Bobi menyatakan bahwa keberadaan dapur-dapur MBG yang didirikan langsung di tingkat kampung dan desa-desa akan menjadi stimulus penting bagi para petani lokal. Kehadiran dapur ini otomatis akan mendorong para petani di daerah untuk kembali bekerja lebih giat dan mempersiapkan proses produksi pangan demi memenuhi kebutuhan yang ada.
Bukan Sultan, Ini Arti Sebenarnya Desil 9 dan 10

Dari sisi efisiensi distribusi, pasokan bahan makanan yang diambil langsung dari wilayah sekitar dinilai jauh lebih efisien. Hal ini sangat krusial bagi daerah-daerah 3T yang selama ini kerap menghadapi keterbatasan akses transportasi serta kendala infrastruktur. Oleh sebab itu, pemerintah sangat mendorong pemanfaatan pangan lokal dalam penyediaan makanan untuk program MBG, khususnya di wilayah 3T. Kebijakan ini tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat setempat, tetapi juga untuk mengurangi ketergantungan wilayah tersebut terhadap pasokan bahan pangan dari luar daerah.
Untuk memperkuat rantai pasok lokal tersebut, pemerintah mendorong peran aktif Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menjelaskan bahwa produksi dari para petani dan peternak lokal dapat dikonsolidasikan secara teratur melalui wadah koperasi ini. Dengan adanya konsolidasi melalui KDKMP, pasokan bahan pangan untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diharapkan dapat dipenuhi secara lebih mudah dan rutin demi keberlangsungan program.
Hadir Serentak di 131 Lokasi, BRI KKB National Expo 2026 Raih Rekor MURI

Melalui penyerapan hasil produksi pertanian dan peternakan yang konsisten oleh program MBG, para petani dan peternak lokal akan mendapatkan kepastian pasar yang selama ini menjadi tantangan di wilayah 3T. Kepastian serapan pasar ini tidak hanya memberikan jaminan pendapatan bagi para produsen lokal, tetapi juga sangat membantu pemerintah dalam menjaga stabilitas harga berbagai komoditas pangan di tingkat daerah agar tidak fluktuatif.






