Presiden Taiwan, Lai Ching-te, melakukan perjalanan larut malam menggunakan kendaraan pengangkut personel lapis baja menuju pusat komando militer. Langkah evakuasi darurat ini merupakan bagian dari simulasi dalam latihan perang tahunan Han Kuang yang berlangsung selama 10 hari. Latihan tempur berskala besar ini secara resmi telah dimulai pada hari Rabu. Secara keseluruhan, latihan tempur ini dirancang secara khusus untuk memperkuat persiapan serta kesiapan pertahanan Taiwan seandainya China benar-benar mewujudkan ancaman militernya ke pulau tersebut.
Sebagai bentuk transparansi dan dokumentasi latihan, kantor kepresidenan pada hari Kamis merilis sebuah potret resmi. Foto tersebut memperlihatkan Presiden Lai Ching-te mengenakan pelindung tubuh lengkap serta helm militer saat melangkah masuk ke bagian belakang kendaraan lapis baja. Juru bicara kepresidenan Taiwan, Karen Kuo, memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai aktivitas tersebut. Kuo menyatakan bahwa Lai bersama dengan timnya sedang melakukan simulasi komando operasi pertahanan negara. Manuver taktis ini sendiri menandai partisipasi perdana Lai sebagai presiden sejak ia resmi menjabat pada tahun 2024 dalam skenario darurat yang oleh pemerintah disebut sebagai rencana 'Wan Chun'.
Rencana evakuasi darurat untuk menyelamatkan pemimpin tertinggi Taiwan ke tempat yang aman sebenarnya bukanlah hal yang baru. Protokol penyelamatan ini telah ada dan dipersiapkan sejak era Perang Dingin. Akar ketegangan geopolitik ini bermula pada tahun 1949, ketika Chiang Kai-shek bersama pemerintah Republik China melarikan diri ke Taiwan setelah pasukan komunis yang dipimpin oleh Mao Zedong memenangkan perang saudara di Tiongkok daratan. Sejak relokasi pemerintahan tersebut pada tahun 1949, tidak ada satu pun perjanjian damai yang pernah ditandatangani oleh kedua belah pihak. Oleh karena itu, Beijing terus memandang pulau demokratis Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan secara konsisten berulang kali bersumpah akan merebut pulau tersebut, bahkan dengan menggunakan kekuatan militer atau paksa jika memang diperlukan.
LRT Jakarta Rute Kelapa Gading-Manggarai Siap Diresmikan, Tarif Flat Rp5.000 Hingga Oktober

Kekhawatiran mengenai keselamatan fisik pemimpin Taiwan kian nyata dan menjadi perhatian serius. Hal ini terjadi setelah media pemerintah China pada tahun 2023 secara terbuka menyebutkan bahwa salah satu skenario latihan tempur militer mereka di sekitar kawasan Taiwan adalah melakukan serangan presisi yang ditujukan untuk misi pemenggalan atau eliminasi kepemimpinan. Guna mengantisipasi ancaman tersebut, militer Taiwan terus mematangkan kesiapan tempurnya. Dalam rangkaian latihan Han Kuang kali ini, Presiden Lai Ching-te juga turun ke lapangan untuk memantau secara langsung proses pemasangan peluncur rudal di kapal penjaga pantai kelas Anping. Kapal penjaga pantai kelas Anping ini sendiri didesain dengan mengadopsi rancangan kapal perang serang cepat Tuo Chiang yang dimiliki oleh angkatan laut Taiwan.
Selain penguatan armada laut, pertahanan udara di ibu kota juga diperketat dengan penempatan alutsista strategis. Sistem rudal darat-ke-udara Tien-Kung III buatan dalam negeri telah dikerahkan dan ditempatkan di Taipei. Persenjataan pertahanan udara ini kini disiagakan di lokasi-lokasi vital, tepatnya di dekat bandara Songshan serta area sekitar markas kementerian pertahanan. Penempatan ini sejalan dengan fokus utama latihan Han Kuang yang menitikberatkan pada beberapa area pelatihan penting. Area pelatihan tersebut mencakup operasi anti-blokade, pertahanan terhadap serangan pesisir, perlindungan terhadap target-target vital negara, hingga koordinasi dukungan dari seluruh lapisan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat.
Kapal Tenggelam Buat Warga Ngamuk, Batu Melayang-Benda Dibakar

Tidak hanya melibatkan militer, simulasi pertahanan kali ini juga menyentuh sektor komunikasi sipil. Taiwan merencanakan untuk secara sengaja memperlambat kecepatan akses internet seluler warganya pada pekan depan. Uji coba perdana ini sengaja dilakukan untuk menguji dan melihat bagaimana warga sipil dapat berkomunikasi ketika kapasitas bandwidth menjadi sangat terbatas atau langka selama masa darurat perang. Langkah-langkah antisipasi yang ketat ini diambil di tengah terus meningkatnya aktivitas militer Beijing di sekitar pulau tersebut. Sebagai bukti nyata, kementerian pertahanan Taiwan pada hari Rabu melaporkan telah mendeteksi pergerakan sebanyak 14 pesawat militer dan sembilan kapal perang milik China di sekitar wilayah mereka. Meskipun Beijing secara konsisten menjuluki Lai sebagai sosok separatis dan terus-menerus menolak tawaran perundingan yang ia ajukan, Lai tetap teguh pada prinsipnya bahwa hanya rakyat Taiwan sendiri yang memiliki hak penuh untuk menentukan masa depan wilayah mereka.






