Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi telah merilis prakiraan cuaca untuk wilayah Provinsi Jawa Tengah untuk periode hari Kamis, 6 Agustus 2026. Berdasarkan laporan prakiraan cuaca terbaru tersebut, sebagian besar wilayah di Jawa Tengah kini didominasi oleh kondisi cuaca cerah berawan hingga berawan sepanjang hari. Kondisi cuaca yang didominasi oleh langit cerah berawan ini menandai bahwa wilayah Jawa Tengah telah memasuki puncak musim kemarau.
Jika melihat ke belakang dan membandingkan dengan pekan-pekan sebelumnya, tren penurunan intensitas curah hujan di Jawa Tengah terlihat sangat signifikan. Sebagai gambaran, BMKG sebelumnya sempat memprediksi terjadinya hujan ringan di 7 wilayah Jawa Tengah pada tanggal 17 Juli 2026. Kemudian, pada tanggal 31 Juli 2026, BMKG juga memprakirakan adanya hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di 5 daerah di Jawa Tengah. Namun, memasuki awal bulan Agustus, tepatnya pada Kamis, 6 Agustus 2026, peluang turunnya hujan menyusut drastis. Peluang terjadinya hujan ringan kini terpantau hanya terdeteksi di wilayah Karanganyar saja, yang diproyeksikan terjadi pada waktu sore hari.
Prakirawan dari BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Noor Jannah Indriyani, memaparkan informasi lebih lanjut mengenai kondisi suhu dan kelembaban udara. Suhu udara di wilayah Jawa Tengah saat ini diprediksi berkisar antara 16 hingga 34 derajat Celcius. Sementara itu, tingkat kelembaban udara berada pada rentang antara 45 persen hingga 95 persen. Angin di wilayah Jawa Tengah secara umum bertiup dari arah timur menuju ke arah selatan dengan kecepatan yang berkisar antara 5 hingga 35 kilometer per jam.
Otorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi Sorotan

Terkait dengan kondisi puncak musim kemarau ini, Noor Jannah Indriyani memberikan peringatan penting bagi masyarakat Jawa Tengah. Ia mengimbau warga agar mewaspadai potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurut penjelasannya, potensi karhutla ini dipicu oleh ketiadaan hujan, banyaknya tanaman yang mengering, serta tiupan angin yang berembus cukup kencang. Selain potensi kebakaran hutan dan lahan, Noor Jannah juga menambahkan bahwa masyarakat perlu mengantisipasi perubahan suhu udara yang cukup ekstrem di waktu-waktu tertentu. Udara akan terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari, terutama bagi masyarakat yang berada di kawasan pegunungan dan dataran tinggi.
Beralih ke wilayah perairan, BMKG Stasiun Maritim Tanjung Emas Semarang juga telah mengeluarkan peringatan dini terkait ancaman gelombang tinggi. Prakirawan dari BMKG Stasiun Maritim Tanjung Emas Semarang, Lessy Andari, melaporkan bahwa gelombang di wilayah perairan selatan Jawa Tengah diprediksi dapat mencapai ketinggian antara 2,5 hingga 4 meter. Atas dasar kondisi tersebut, Lessy Andari mengimbau masyarakat untuk senantiasa mewaspadai potensi gelombang tinggi di perairan selatan, terutama ketika kecepatan angin terpantau meningkat hingga di atas 15 knot.
Ketentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKN

Situasi yang sedikit berbeda terpantau di wilayah perairan utara Jawa Tengah. Di bagian utara, gelombang dengan ketinggian berkisar antara 1,25 hingga 2,5 meter terpantau hanya terjadi di wilayah Karimunjawa saja. Kendati tinggi gelombang di perairan utara relatif lebih rendah dibanding perairan selatan, masyarakat di sekitar pesisir tetap harus waspada. Hingga saat ini, bencana banjir di sejumlah kawasan pesisir Pantura (Pantai Utara), seperti di daerah Pekalongan dan Demak, dilaporkan masih belum sepenuhnya surut.






