Taipan petrokimia tanah air, Prajogo Pangestu, kembali mengamankan posisinya di urutan pertama sebagai orang terkaya di Indonesia. Berdasarkan data dari Forbes Real-Time Billionaires per tanggal 13 Agustus 2026 pukul 02.50 EDT, pundi-pundi kekayaan Prajogo mengalami peningkatan yang sangat signifikan hanya dalam kurun waktu satu hari. Harta kekayaannya tercatat naik sebesar 6,45 persen atau hampir mencapai 7 persen dalam sehari. Lonjakan harian yang luar biasa ini setara dengan nilai sebesar US$1,1 miliar atau jika dikonversikan setara dengan Rp19 triliun.
Dengan adanya kenaikan yang terjadi dalam waktu satu hari tersebut, total nilai kekayaan yang dimiliki oleh Prajogo Pangestu kini telah mencapai US$17,4 miliar. Apabila nilai tersebut dikonversikan ke dalam mata uang rupiah dengan menggunakan acuan nilai tukar sebesar Rp17.879 per dolar AS, maka total kekayaan bersih yang dimiliki oleh sang taipan petrokimia ini adalah setara dengan Rp311,07 triliun. Jumlah kekayaan yang fantastis ini sukses mengantarkan dirinya kembali menduduki peringkat pertama dalam daftar orang terkaya di Indonesia.
IHSG Sesi I Anjlok 1,18%, Saham Bank & Komoditas Jadi Beban

Peningkatan drastis pada nilai kekayaan Prajogo Pangestu ini tidak terlepas dari kinerja positif dan apresiasi terhadap saham-saham dari perusahaan yang dimilikinya selama kurun waktu sebulan terakhir. Salah satu pendorong utama kenaikan ini adalah saham PT Petrosea Tbk (PTRO) yang berhasil melesat paling tinggi, yakni mencatatkan kenaikan sebesar 36,95 persen dalam satu bulan terakhir. Selain PTRO, beberapa emiten lain di bawah naungan grup usahanya juga menunjukkan performa yang kuat. Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) tercatat mengalami kenaikan sebesar 17,36 persen, sementara saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) selaku induk usaha juga ikut terangkat naik sebesar 16,36 persen dalam sebulan terakhir.
Kinerja positif ini juga diperkuat oleh pergerakan saham emiten lainnya, seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang harga sahamnya naik sebesar 17,35 persen dalam kurun waktu sebulan terakhir. Kenaikan saham BREN ini tetap terjadi meskipun emiten tersebut memiliki konsentrasi kepemilikan saham yang sangat tinggi atau high shareholding concentration (HSC) mencapai 97,31 persen. Sebagai informasi, kondisi konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi ini sebelumnya sempat membuat Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengambil keputusan untuk mengeluarkan atau mendepak BREN dari indeks saham berkapitalisasi besar dan menengah Indonesia (large and mid-cap stock index) pada pengumuman tinjauan indeks di bulan Mei 2026 lalu.
Upaya BAF Hadirkan Work-Life Balance dan Perlindungan Kerja bagi Karyawan

Di samping itu, saham emiten petrokimia miliknya, yaitu PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), juga turut mencatatkan apresiasi dengan kenaikan sebesar 15,24 persen dalam kurun waktu sebulan terakhir. TPIA sendiri diketahui telah melakukan langkah strategis dengan meningkatkan porsi saham beredar di publik (free float) menjadi sebesar 25,7 persen, dari yang sebelumnya hanya sebesar 10,9 persen. Direktur Keuangan Chandra Asri, Andre Khor, menjelaskan bahwa upaya peningkatan porsi free float ini sengaja dilakukan demi mengimbangi struktur kepemilikan saham perusahaan atau melakukan shareholding rebalancing. Terakhir, saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) juga turut mencatatkan pertumbuhan positif dengan kenaikan sebesar 14,63 persen dalam sebulan terakhir, melengkapi performa gemilang portofolio bisnis Prajogo Pangestu yang pada akhirnya melambungkan kembali namanya sebagai orang terkaya nomor satu di Indonesia.






