Fenomena mengenai anak dengan IQ tinggi yang tidak selalu berprestasi di sekolah kini menjadi pembahasan yang semakin mengemuka di kalangan pemerhati pendidikan dan psikologi anak. Banyak orang tua yang berasumsi bahwa kapasitas intelektual yang luar biasa secara otomatis akan berbanding lurus dengan pencapaian akademis yang cemerlang di ruang kelas. Namun, kenyataannya menunjukkan bahwa korelasi tersebut tidak selalu berjalan beriringan.
Secara formal, kondisi ketika anak dengan koefisien kecerdasan tinggi tetapi tidak meraih prestasi sepadan dengan potensinya dikenal sebagai gifted underachievement. Istilah ini menggambarkan adanya jurang pemisah antara kapasitas kognitif bawaan yang dimiliki anak dan hasil belajar yang mereka tunjukkan di sekolah. Prestasi yang diperoleh anak tersebut berada di bawah potensi mereka yang sebenarnya sebagai anak berbakat.
Data penelitian menunjukkan bahwa fenomena ini cukup signifikan. Berdasarkan catatan Del Siegle dalam Handbook of Giftedness in Children (2018) yang dilaporkan oleh Leana-Tascilar, sekitar 50 persen siswa berbakat dapat mengalami underachievement selama masa sekolah mereka. Sementara itu, data dari Komite Senat Australia mencatat rentang yang lebih tinggi, yaitu antara 38 persen hingga 75 persen, dengan 15 persen hingga 40 persen di antaranya berisiko putus sekolah sebelum menyelesaikan pendidikan menengah.
Jadwal Siaran Langsung Timnas Futsal Indonesia di Spanyol 2026 dan Daftar Skuad

Sally M. Reis dan D. Betsy McCoach dari University of Connecticut mengelompokkan tiga faktor penyebab underachievement. Pertama, adanya persoalan fisik, kognitif, atau emosional yang tersembunyi. Kedua, ketidakcocokan antara kebutuhan belajar anak dengan lingkungan sekolah. Ketiga, faktor karakteristik personal seperti motivasi, kemampuan mengatur diri, dan keyakinan terhadap kemampuan sendiri. Faktor-faktor ini diperkuat oleh temuan Raoof dkk. (2024) yang membaginya menjadi faktor internal seperti motivasi, sosial-emosional, dan demografis, serta faktor eksternal seperti persepsi lingkungan, keluarga, teman sebaya, dan kondisi sosial-ekonomi.
Kasus-kasus nyata menunjukkan bagaimana faktor-faktor ini bekerja secara berbeda pada setiap anak. Misalnya, Sean, seorang siswa kelas tiga SD dengan kecerdasan di persentil ke-99, mengalami underachievement karena ketidakcocokan lingkungan belajar yang membuatnya mudah bosan di kelas. Di sisi lain, Nathaniel yang memiliki IQ 150 mengalami hambatan akibat faktor personal seperti kesulitan menulis kreatif, kecenderungan menghindari kegagalan, dan kesulitan mengatur diri. Ada pula Sara, siswa kelas lima dengan IQ 129 yang mengalami kondisi twice-exceptional (2e), di mana kecerdasan tingginya disertai dengan kesulitan membaca yang signifikan.
Kronologi Ha Young Dikritik soal Kakek yang Pro Jepang

Untuk mengatasi masalah ini, pendekatan yang digunakan harus disesuaikan dengan akar masalah masing-masing anak. Menurut Achievement Orientation Model (AOM) yang disusun oleh Del Siegle, motivasi dan prestasi siswa sangat dipengaruhi oleh interaksi tiga pilar persepsi diri, yaitu keyakinan diri (self-efficacy), penghargaan terhadap nilai tugas (goal valuation), dan persepsi terhadap lingkungan sekitar. Jika salah satu dari ketiga elemen ini berada di bawah ambang batas, siswa berisiko mengalami underachievement tanpa memandang tingginya skor IQ mereka.
Melalui pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi ini, para pendidik dan orang tua diharapkan dapat lebih bijak dalam menyikapi perkembangan belajar anak. Langkah awal yang penting adalah menyadari bahwa nilai akademis yang rendah tidak serta-merta mencerminkan tingkat kecerdasan yang rendah atau sekadar label malas. Dengan mengidentifikasi penyebab gifted underachievement secara tepat, pendekatan pembelajaran yang lebih personal dan suportif dapat dirancang untuk membantu anak mengaktualisasikan potensi intelektual mereka secara optimal.






