apriniageosat.co.id
BerandaNasionalKesehatanHukumEkonomiOlahragaPolitikTeknologiOtomotifInternasionalSportsBusinessNationalPopuler
Beranda/Edukasi

Anak dengan IQ Tinggi Tak Selalu Berprestasi di Sekolah

Domu TobingDiterbitkan 13 Agu 2026 - 14.12 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Anak dengan IQ Tinggi Tak Selalu Berprestasi di Sekolah
Foto/Ilustrasi: tirto.id.
A-A+

Fenomena mengenai anak dengan IQ tinggi yang tidak selalu berprestasi di sekolah kini menjadi pembahasan yang semakin mengemuka di kalangan pemerhati pendidikan dan psikologi anak. Banyak orang tua yang berasumsi bahwa kapasitas intelektual yang luar biasa secara otomatis akan berbanding lurus dengan pencapaian akademis yang cemerlang di ruang kelas. Namun, kenyataannya menunjukkan bahwa korelasi tersebut tidak selalu berjalan beriringan.

Secara formal, kondisi ketika anak dengan koefisien kecerdasan tinggi tetapi tidak meraih prestasi sepadan dengan potensinya dikenal sebagai gifted underachievement. Istilah ini menggambarkan adanya jurang pemisah antara kapasitas kognitif bawaan yang dimiliki anak dan hasil belajar yang mereka tunjukkan di sekolah. Prestasi yang diperoleh anak tersebut berada di bawah potensi mereka yang sebenarnya sebagai anak berbakat.

Data penelitian menunjukkan bahwa fenomena ini cukup signifikan. Berdasarkan catatan Del Siegle dalam Handbook of Giftedness in Children (2018) yang dilaporkan oleh Leana-Tascilar, sekitar 50 persen siswa berbakat dapat mengalami underachievement selama masa sekolah mereka. Sementara itu, data dari Komite Senat Australia mencatat rentang yang lebih tinggi, yaitu antara 38 persen hingga 75 persen, dengan 15 persen hingga 40 persen di antaranya berisiko putus sekolah sebelum menyelesaikan pendidikan menengah.

Baca Juga

Jadwal Siaran Langsung Timnas Futsal Indonesia di Spanyol 2026 dan Daftar Skuad

Jadwal Siaran Langsung Timnas Futsal Indonesia di Spanyol 2026 dan Daftar Skuad

Sally M. Reis dan D. Betsy McCoach dari University of Connecticut mengelompokkan tiga faktor penyebab underachievement. Pertama, adanya persoalan fisik, kognitif, atau emosional yang tersembunyi. Kedua, ketidakcocokan antara kebutuhan belajar anak dengan lingkungan sekolah. Ketiga, faktor karakteristik personal seperti motivasi, kemampuan mengatur diri, dan keyakinan terhadap kemampuan sendiri. Faktor-faktor ini diperkuat oleh temuan Raoof dkk. (2024) yang membaginya menjadi faktor internal seperti motivasi, sosial-emosional, dan demografis, serta faktor eksternal seperti persepsi lingkungan, keluarga, teman sebaya, dan kondisi sosial-ekonomi.

Kasus-kasus nyata menunjukkan bagaimana faktor-faktor ini bekerja secara berbeda pada setiap anak. Misalnya, Sean, seorang siswa kelas tiga SD dengan kecerdasan di persentil ke-99, mengalami underachievement karena ketidakcocokan lingkungan belajar yang membuatnya mudah bosan di kelas. Di sisi lain, Nathaniel yang memiliki IQ 150 mengalami hambatan akibat faktor personal seperti kesulitan menulis kreatif, kecenderungan menghindari kegagalan, dan kesulitan mengatur diri. Ada pula Sara, siswa kelas lima dengan IQ 129 yang mengalami kondisi twice-exceptional (2e), di mana kecerdasan tingginya disertai dengan kesulitan membaca yang signifikan.

Baca Juga

Kronologi Ha Young Dikritik soal Kakek yang Pro Jepang

Kronologi Ha Young Dikritik soal Kakek yang Pro Jepang

Untuk mengatasi masalah ini, pendekatan yang digunakan harus disesuaikan dengan akar masalah masing-masing anak. Menurut Achievement Orientation Model (AOM) yang disusun oleh Del Siegle, motivasi dan prestasi siswa sangat dipengaruhi oleh interaksi tiga pilar persepsi diri, yaitu keyakinan diri (self-efficacy), penghargaan terhadap nilai tugas (goal valuation), dan persepsi terhadap lingkungan sekitar. Jika salah satu dari ketiga elemen ini berada di bawah ambang batas, siswa berisiko mengalami underachievement tanpa memandang tingginya skor IQ mereka.

Melalui pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi ini, para pendidik dan orang tua diharapkan dapat lebih bijak dalam menyikapi perkembangan belajar anak. Langkah awal yang penting adalah menyadari bahwa nilai akademis yang rendah tidak serta-merta mencerminkan tingkat kecerdasan yang rendah atau sekadar label malas. Dengan mengidentifikasi penyebab gifted underachievement secara tepat, pendekatan pembelajaran yang lebih personal dan suportif dapat dirancang untuk membantu anak mengaktualisasikan potensi intelektual mereka secara optimal.

Ikuti apriniageosat.co.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

pendidikan

Berita Terbaru Lainnya

Prajogo Pangestu Jadi Orang Terkaya RI, Hartanya Naik Rp19 T SehariYusril soal Kasus Challenge Quran Dapat Miras, Harap Polisi Cari SolusiJadwal Siaran Langsung Timnas Futsal Indonesia di Spanyol 2026 dan Daftar SkuadKronologi Ha Young Dikritik soal Kakek yang Pro JepangKrisis Kesehatan Mental Melanda Awak Kapal Induk USS Abraham LincolnBNN Gerebek Markas Bos Narkoba Kampung Bahari, Sita Senjata hingga Aset Miliaran RupiahProyeksi Adopsi Jaringan 5G di Indonesia dan Perkembangan Konektivitas di Wilayah 3TMedali Perak Baseball5 Jadi Bukti Perkembangan Persiapan Atlet Indonesia Menjelang SEA Games 2025

Paling Banyak Dibaca

Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus Transjakarta

Megapolitan

Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus Transjakarta

25 Jul 2026

Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu Timur

Hukum

Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu Timur

27 Jul 2026

Prabowo Sebut Kemiskinan Ekstrem Terendah, Kenali Lima Ciri Kelas Bawah

Ekonomi

Prabowo Sebut Kemiskinan Ekstrem Terendah, Kenali Lima Ciri Kelas Bawah

26 Jul 2026

Dorong Substitusi Batu Bara, Biomassa Berbasis Residu Industri Diakselerasi untuk PLTU

General News

Dorong Substitusi Batu Bara, Biomassa Berbasis Residu Industri Diakselerasi untuk PLTU

29 Jul 2026

Ketum Kadin Ungkap Isi Pertemuan dengan Presiden Prabowo di Istana Negara

Ekonomi

Ketum Kadin Ungkap Isi Pertemuan dengan Presiden Prabowo di Istana Negara

1 Agu 2026

IHSG Ditutup Turun 0,64%, Tinggalkan Level 6.100 pada Perdagangan Rabu

Ekonomi

IHSG Ditutup Turun 0,64%, Tinggalkan Level 6.100 pada Perdagangan Rabu

30 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus TransjakartaMegapolitan 路 25 Jul 2026
  2. 2Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu TimurHukum 路 27 Jul 2026
  3. 3Prabowo Sebut Kemiskinan Ekstrem Terendah, Kenali Lima Ciri Kelas BawahEkonomi 路 26 Jul 2026
  4. 4Dorong Substitusi Batu Bara, Biomassa Berbasis Residu Industri Diakselerasi untuk PLTUGeneral News 路 29 Jul 2026
  5. 5Ketum Kadin Ungkap Isi Pertemuan dengan Presiden Prabowo di Istana NegaraEkonomi 路 1 Agu 2026

apriniageosat.co.id

Copyright 2026 apriniageosat.co.id - All Rights Reserved.

Kategori

NasionalKesehatanHukumEkonomiOlahragaPolitikTeknologiOtomotifInternasionalSportsBusinessNational

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap