apriniageosat.co.id
BerandaNasionalKesehatanHukumMegapolitanSosialBudayaEkonomiPeristiwaKulinerOlahragaMusikHiburanSainsPolitikPendidikanKriminalBisnisLingkunganHumanioraPariwisataMetropolitanTeknologiGaya HidupReligiOtomotifPropertiInternasionalTransportasiBencanaWisataPemerintahanKeperdataanEnergiManajemenSejarahInfrastrukturKeagamaanMetroEdukasiMitigasi BencanaPopuler
Beranda/Jakarta

Polemik Sistem Desil KJP, Banyak Warga Miskin Jakarta Terancam Kehilangan Akses Bantuan Pendidikan

Usat NgajiDiterbitkan 1 Agu 2026 - 11.10 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Polemik Sistem Desil KJP, Banyak Warga Miskin Jakarta Terancam Kehilangan Akses Bantuan Pendidikan
Foto/Ilustrasi: cnnindonesia.com.
A-A+

Program Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang dirancang untuk membantu akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu di DKI Jakarta kini tengah menghadapi persoalan data. Program strategis Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta ini ditujukan bagi warga usia sekolah 6 hingga 21 tahun agar dapat menuntaskan wajib belajar 12 tahun maupun pelatihan keterampilan yang relevan. Meskipun program ini berhasil menjangkau sekitar 707.520 siswa pada tahun ini, sejumlah warga justru mengeluhkan hilangnya hak mereka sebagai penerima bantuan akibat sistem pemeringkatan kesejahteraan yang disebut desil.

Sistem desil merupakan metode pemeringkatan tingkat kesejahteraan rumah tangga yang digunakan oleh pemerintah dengan mengacu pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Dalam sistem ini, seluruh penduduk dikelompokkan ke dalam 10 desil. Kelompok desil 6 hingga desil 10 dikategorikan sebagai rumah tangga dengan tingkat kesejahteraan yang dinilai lebih baik. Namun, pengelompokan ini memicu persoalan di lapangan karena dinilai tidak mencerminkan kondisi riil sebagian warga.

apriniageosat.co.id

Copyright 2026 apriniageosat.co.id - All Rights Reserved.

Kategori

NasionalKesehatanHukumMegapolitanSosialBudayaEkonomiPeristiwaKulinerOlahragaMusikHiburanSainsPolitikPendidikanKriminalBisnisLingkunganHumanioraPariwisataMetropolitanTeknologiGaya HidupReligiOtomotifPropertiInternasional

Salah satu warga yang terdampak adalah Lia, seorang ibu yang tinggal di rumah kontrakan di kawasan Jakarta Selatan. Lia memiliki tiga anak yang saat ini masih menempuh pendidikan di bangku sekolah. Ia terkejut saat pihak sekolah menginformasikan bahwa anaknya tidak lagi memenuhi syarat untuk menerima KJP karena keluarganya terdata masuk ke dalam desil 6. Untuk memulihkan statusnya, Lia diminta mengajukan penurunan desil melalui aplikasi Cek Bansos. Namun, proses perubahan data tersebut memerlukan waktu yang cukup lama, berkisar antara tiga hingga enam bulan, bahkan bisa mencapai satu tahun.

Baca Juga

Acara Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas Hari Ini, Simak Rekayasa Lalu Lintasnya

Acara Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas Hari Ini, Simak Rekayasa Lalu Lintasnya

Kondisi serupa dialami oleh Nurlela, warga Jakarta Utara yang berusia di atas 50 tahun. Sebagai seorang ibu tunggal yang telah bercerai dan tidak memiliki pekerjaan tetap, Nurlela harus membesarkan dua anaknya seorang diri dengan menumpang tinggal di tempat orang lain. Meskipun kondisinya serbaterbatas, ia terkejut karena namanya masuk dalam kategori desil 6. Nurlela bahkan telah mendatangi kantor wali kota setempat untuk menyanggah status kesejahteraannya tersebut. Sayangnya, setelah tiga bulan berlalu, statusnya tidak kunjung berubah dan tetap berada di desil 6.

Menanggapi kendala ini, Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PAN, Oman Rohman, mengungkapkan bahwa perubahan basis data dari Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) ke DTSEN menjadi pemicu utama masalah ini. Menurut Oman, transisi data tersebut menyebabkan banyak warga mendadak kehilangan akses terhadap program bantuan sosial serta KJP. Di sisi lain, jajaran legislatif Jakarta termasuk Sekretaris Komisi E DPRD DKI Jakarta, Justin Adrian, juga terus memantau dampak dari pergeseran data tersebut terhadap hak-hak pendidikan warga.

Baca Juga

Polisi Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Pengeroyokan Maut Pemuda di Morowali

Polisi Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Pengeroyokan Maut Pemuda di Morowali

Kepala Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistik DKI Jakarta, Marulina Dewi, memberikan penjelasan terkait perbedaan basis data yang digunakan. Saat ini, Pemprov DKI Jakarta masih menggunakan data DTSEN periode Januari 2026. Sementara itu, Kementerian Sosial (Kemensos) telah mengantongi data DTSEN dengan periode yang lebih baru, yaitu Juli 2026. Guna mengatasi ketimpangan ini, Pemprov DKI Jakarta kini tengah berkoordinasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mendapatkan akses data DTSEN periode Juli 2026 tersebut.

Sebagai langkah solutif sementara bagi warga yang terdampak, pemerintah memberikan kelonggaran verifikasi. Bagi calon penerima yang gagal dalam proses verifikasi KJP akibat perbedaan periode data, mereka tetap dapat melanjutkan pendaftaran. Syaratnya, calon penerima harus terbukti masuk dalam kategori desil 1 hingga desil 5 pada aplikasi Cek Bansos milik Kemensos. Pendaftar cukup melampirkan tangkapan layar hasil pengecekan desil terbaru dari aplikasi tersebut sebagai bukti pendukung agar proses pengajuan KJP dapat tetap diproses.

Ikuti apriniageosat.co.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

bantuan sosialDPRD DKI JakartaPemprov DKI JakartaKJPDTSEN

Berita Terbaru Lainnya

Ketika Rasa Takut Menjadi Jarak, Catatan untuk Orang Tua yang CemasAcara Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas Hari Ini, Simak Rekayasa Lalu LintasnyaGempa Magnitudo 5,1 Guncang Wilayah Laut Seram Bagian Timur Maluku Pagi IniNonton Drakor The Husband Episode 9-10 Sub Indo, Sinopsis dan Jadwal TayangNonton Spooky In Love Episode 5-6 Sub Indo, Jadwal Tayang dan Bocoran SinopsisJadwal Pertunjukan Wayang Kulit Agustus 2026, Upaya Melestarikan Warisan Budaya NusantaraPolisi Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Pengeroyokan Maut Pemuda di MorowaliDaftar Komisaris Jenderal Polri yang Memasuki Masa Pensiun Tahun Ini

Paling Banyak Dibaca

Langkah Strategis Vale Indonesia Membangun Rantai Pasok Baterai Kendaraan Listrik di Morowali

Ekonomi

Langkah Strategis Vale Indonesia Membangun Rantai Pasok Baterai Kendaraan Listrik di Morowali

27 Jul 2026

Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASN

Nasional

Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASN

25 Jul 2026

Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus Transjakarta

Megapolitan

Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus Transjakarta

25 Jul 2026

Dua Orang Tewas dalam Kebakaran Rumah di Pulo Gadung Jakarta Timur

Metropolitan

Dua Orang Tewas dalam Kebakaran Rumah di Pulo Gadung Jakarta Timur

27 Jul 2026

Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu Timur

Hukum

Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu Timur

27 Jul 2026

Gelombang Perhelatan Dunia Siap Guyur Indonesia hingga Awal 2027

Pariwisata

Gelombang Perhelatan Dunia Siap Guyur Indonesia hingga Awal 2027

26 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Langkah Strategis Vale Indonesia Membangun Rantai Pasok Baterai Kendaraan Listrik di MorowaliEkonomi 路 27 Jul 2026
  2. 2Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASNNasional 路 25 Jul 2026
  3. 3Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus TransjakartaMegapolitan 路 25 Jul 2026
  4. 4Dua Orang Tewas dalam Kebakaran Rumah di Pulo Gadung Jakarta TimurMetropolitan 路 27 Jul 2026
  5. 5Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu TimurHukum 路 27 Jul 2026
Transportasi
Bencana
Wisata
Pemerintahan
Keperdataan
Energi
Manajemen
Sejarah
Infrastruktur
Keagamaan
Metro
Edukasi
Mitigasi Bencana

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap