PT PLN (Persero) secara resmi mulai menyeleksi lahan milik kementerian yang memiliki potensi untuk digunakan dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Proyek pengembangan ini nantinya akan dipadukan dengan sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau yang dikenal sebagai battery energy storage system (BESS). Langkah penyeleksian lahan ini menjadi bagian penting dari komitmen perusahaan dalam mendukung program pemerintah yang saat ini tengah mempercepat program PLTS 100 GW.
Mengenai program akselerasi tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada awal Agustus 2026 telah menyatakan bahwa program PLTS 100 GW ini sudah masuk dalam revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034. Guna merealisasikan kebutuhan lahan yang diperlukan untuk proyek PLTS plus BESS ini, PLN bergerak cepat dengan melakukan koordinasi intensif bersama Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) serta Kementerian Kehutanan.
Sebagai tindak lanjut dari koordinasi tersebut, Kementerian ATR/BPN sudah menyiapkan daftar lahan milik kementerian yang dapat dimanfaatkan untuk proyek PLTS dan BESS. Namun, PLN tidak bisa langsung menggunakan seluruh lahan tersebut. Manager of Various Renewable Energy PT PLN (Persero) Head Office, Fandi Gunawan Sianipar, mengungkapkan bahwa sebagian lahan yang telah diidentifikasi ternyata berada di wilayah pegunungan dan berlokasi jauh dari pusat beban. Kondisi geografis ini mengharuskan PLN untuk melakukan penyaringan atau seleksi lebih lanjut guna menentukan lahan yang benar-benar layak.
Aturan Pengangkutan Barang Impor dan Ekspor Berubah, Ini 5 Poin yang Perlu Diketahui

Tantangan dalam pengembangan proyek ini tidak hanya datang dari aspek lokasi dan geografis lahan, melainkan juga dari sisi regulasi yang berlaku. Fandi Gunawan Sianipar menjelaskan bahwa saat ini regulasi yang ada masih belum mengatur penggunaan BESS untuk melakukan pengalihan beban atau load shifting. Di samping menyelaraskan regulasi, PLN juga terus berupaya mengembangkan teknologi jaringan pintar atau smart grid demi meningkatkan fleksibilitas jaringan listrik yang ada.
Selain memanfaatkan lahan milik kementerian, PLN juga aktif mengembangkan berbagai alternatif lain untuk memperluas kapasitas PLTS di Indonesia. Alternatif-alternatif tersebut mencakup pengembangan PLTS terapung (floating PLTS), pembangkit listrik virtual atau virtual power plant (VPP), serta sistem pembangkit listrik tersebar atau distributed generation. Langkah-langkah inovatif ini diharapkan dapat mempermudah penyediaan energi bersih tanpa harus bergantung sepenuhnya pada ketersediaan lahan darat konvensional.
Purbaya Siapkan Jurus Baru Buat UMKM, PIP hingga LPEI Bakal Dikerahkan

Salah satu langkah konkret yang tengah dilakukan adalah pengembangan PLTS Mentari Nusantara I. Proyek pengembangan PLTS Mentari Nusantara I ini juga telah dilengkapi dengan sistem BESS yang dikolokasikan secara langsung dengan unit PLTS. Penerapan sistem penyimpanan energi terintegrasi ini dirancang khusus untuk membantu mengurangi dampak intermittency atau ketidakstabilan pasokan energi yang kerap menjadi tantangan utama pada pembangkit listrik berbasis tenaga surya.






