Pelatihan kebencanaan selama tiga hari yang berlangsung pada 29 hingga 31 Juli 2026 menjadi langkah nyata dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat di pesisir selatan Jawa Tengah. Kegiatan yang dipusatkan di Desa Bunton, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap ini ditujukan khusus bagi kaum perempuan guna mendukung implementasi program Desa Tangguh Bencana (Destana). Langkah ini diambil untuk menghadapi potensi ancaman bencana alam yang kerap mengintai wilayah pesisir.
Letak geografis Desa Bunton yang berada di kawasan pesisir Samudra Hindia membuatnya rentan terhadap berbagai potensi bencana. Melalui pelatihan ini, masyarakat dipersiapkan untuk menghadapi ancaman gempa bumi, tsunami, banjir rob, abrasi, hingga cuaca ekstrem. Keberadaan wilayah ini yang juga berdekatan dengan area PLTU Jawa Tengah 2 Adipala menjadikan aspek keselamatan dan kesiapsiagaan mandiri sebagai prioritas penting bagi warga setempat. Kerentanan wilayah perairan Cilacap juga terlihat dari peristiwa terbaliknya kapal nelayan Pendi Jaya setelah dihantam gelombang di Perairan Teluk Penyu, yang mengakibatkan dua anak buah kapal (ABK) tewas dan tujuh lainnya berhasil diselamatkan. Selain itu, mobilitas di wilayah perairan Cilacap, seperti perjalanan melintasi perairan Segara Anakan dari Klaces menuju Dermaga Sleko, membutuhkan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam.
Program ini terlaksana berkat inisiatif tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) dari PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI). Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, menjelaskan bahwa program tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas perempuan sebagai agen pengurangan risiko bencana berbasis komunitas. Hal senada juga menjadi fokus dari Srikandi PLN EPI yang dipimpin oleh Erma Melina Sarahwati, yang sekaligus menjabat sebagai Direktur Gas dan BBM PLN EPI. Keterlibatan aktif kelompok perempuan diharapkan mampu meminimalkan dampak buruk saat terjadi situasi darurat di lingkungan sekitar mereka.
Otorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi Sorotan

Selama tiga hari pelaksanaan, para peserta mendapatkan materi yang komprehensif dengan memadukan teori, praktik lapangan, simulasi kebencanaan, serta penguatan kelembagaan kelompok. Pembekalan yang diberikan meliputi pengurangan risiko bencana, komunikasi risiko, sistem peringatan dini, pertolongan pertama, evakuasi mandiri, dan perlindungan kelompok rentan. Tidak hanya itu, peserta juga dilatih dalam memberikan dukungan psikososial pascabencana serta menyusun rencana aksi berbasis masyarakat. Ketua Kelompok Perempuan Tangguh Bencana Desa Bunton, Rastiani, memimpin kelompoknya untuk aktif mengikuti seluruh rangkaian kegiatan ini.
Untuk menunjang kesiapan di lapangan, kelompok peserta juga menerima bantuan perlengkapan tanggap darurat yang diserahkan secara langsung. Bantuan tersebut mencakup peralatan keselamatan, kotak P3K, alat komunikasi, serta perlengkapan administrasi yang dibutuhkan dalam menunjang operasional kelompok. Kehadiran perlengkapan ini diharapkan dapat mempercepat respons awal saat terjadi kondisi darurat sebelum bantuan dari pihak berwenang tiba di lokasi.
Ketentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKN

Kegiatan ini turut mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah dan instansi terkait. Camat Adipala Firdaus Azy Mutia bersama Kepala UPT BPBD Kroya Edi Purwanto hadir mengawal jalannya pelatihan untuk memastikan program berjalan selaras dengan kebijakan penanggulangan bencana daerah di Jawa Tengah, yang saat ini dipimpin oleh Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen. Penguatan kapasitas di tingkat desa seperti di Bunton ini menjadi bagian penting dalam kesiapan nasional, terlebih saat ini Indonesia tengah bersiap menjadi tuan rumah Konferensi Dunia Pengurangan Risiko Bencana pada tahun 2030 mendatang.
Upaya mitigasi dan penanganan bencana tidak hanya krusial bagi wilayah pesisir Cilacap, tetapi juga daerah lain di Indonesia. Sebagai contoh, di Kasepuhan Ciptamulya, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Baznas RI menyalurkan bantuan darurat bagi warga terdampak kebakaran. Bencana di Sukabumi sendiri didominasi oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan akibat dampak kemarau panjang. Di sisi lain, potret kehidupan masyarakat di tengah dinamika daerah juga terekam melalui kisah Sugeng Paijo, atau yang akrab dipanggil Jojo, yang memutuskan untuk menyewa rumah petak berukuran 4x5 meter setelah ia menikah dengan Khania Kendarsyah.






