Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan semakin meluas hingga ke wilayah pesisir Laut Mediterania. Sebuah kapal tanker penyimpanan gas milik Amerika Serikat dikabarkan menjadi sasaran serangan pesawat nirawak (drone) saat sedang bersandar di Pelabuhan Damietta, Mesir. Insiden ini menandai babak baru dalam eskalasi ketegangan regional yang kini telah merambah ke wilayah yang sebelumnya relatif aman dari jangkauan pertempuran langsung.
Informasi mengenai serangan ini pertama kali dilaporkan oleh Ambrey, sebuah perusahaan keamanan maritim asal Inggris. Dalam penilaian awal yang dirilis pada Rabu malam atau Kamis dini hari tanggal 30 Juli 2026, Ambrey mengindikasikan adanya hantaman drone terhadap fasilitas terapung tersebut. Menurut keterangan dari tiga sumber perdagangan yang mengetahui peristiwa ini, kapal yang menjadi sasaran adalah Energos Winter, sebuah kapal tanker penyimpanan terapung. Hantaman tersebut memicu kobaran api yang kemudian sempat merambat ke kapal lain yang berada di dekatnya.
Meski demikian, terdapat perbedaan informasi mengenai penyebab pasti insiden ini. Kementerian Perminyakan Mesir telah memberikan konfirmasi resmi mengenai terjadinya kebakaran di area pelabuhan tersebut. Namun, dalam pernyataan resminya, pihak kementerian sama sekali tidak menyebutkan adanya serangan drone sebagai penyebab kebakaran. Pihak berwenang Mesir hanya menyatakan bahwa api berhasil dipadamkan dengan cepat dan memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Hingga saat ini, belum ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab atas dugaan serangan ini, sehingga ketidakpastian mengenai aktor di balik insiden tersebut masih tinggi.
LRT Jakarta Rute Kelapa Gading-Manggarai Siap Diresmikan, Tarif Flat Rp5.000 Hingga Oktober

Insiden di Pelabuhan Damietta ini terjadi di tengah situasi keamanan Timur Tengah yang terus memburuk akibat perang antara Amerika Serikat dan Iran. Di wilayah lain, eskalasi militer juga terus terjadi. Iran dilaporkan telah meluncurkan serangan rudal yang menyasar pasukan Amerika Serikat yang ditempatkan di Yordania. Sebagai respons, Amerika Serikat bersama sekutunya, Arab Saudi, melancarkan serangan balasan terhadap kelompok-kelompok bersenjata yang didukung oleh Iran di wilayah Irak.
Konflik yang kian membara ini meleset jauh dari prediksi awal yang disampaikan oleh Washington. Pada Februari lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran hanya akan berlangsung selama beberapa pekan saja. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Perang kini telah memasuki bulan kelima tanpa ada tanda-tanda mereda, bahkan setelah Trump secara mengejutkan sempat menghentikan serangan militer AS pada akhir pekan lalu.
Kapal Tenggelam Buat Warga Ngamuk, Batu Melayang-Benda Dibakar

Ketidakpastian geopolitik yang semakin meruncing ini langsung memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian global, khususnya sektor energi. Harga minyak mentah dunia mencatatkan lonjakan tajam pada perdagangan hari Rabu. Kenaikan ini tercatat sebagai salah satu lompatan harga terbesar sepanjang lima bulan berlangsungnya konflik AS-Iran. Harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan melesat naik lebih dari 8 persen, yang membuat harganya kembali menembus angka di atas 90 dolar AS per barel. Para pelaku pasar kini terus memantau perkembangan situasi di Mesir dan wilayah Timur Tengah lainnya untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan energi global lebih lanjut.






