Suasana hari pertama masuk sekolah pada Senin, 13 Juli 2026, terasa sangat berbeda bagi Muhammad Arief Rangkuti. Siswa kelas VIII/4 di SMP Negeri 2 Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang ini, terkejut saat melihat kondisi sekolahnya yang kini tampil jauh lebih rapi dan kokoh, menyerupai bangunan baru. Perubahan drastis ini merupakan hasil dari proyek rekonstruksi fisik sekolah yang telah dimulai sejak 8 April 2026. Hingga tahun ajaran baru bergulir, pengerjaan rehabilitasi yang mencakup 23 ruang kelas tersebut telah mencapai tingkat penyelesaian hingga 89 persen. Kehadiran gedung baru ini memberikan energi positif yang memicu semangat belajar para siswa setelah melewati masa pemulihan pascabencana.
Proses pemulihan fasilitas pendidikan di SMP Negeri 2 Karang Baru ini didanai melalui program Perjanjian Kerja Sama (PKS) Revitalisasi yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Untuk merehabilitasi sekolah ini, dialokasikan anggaran sebesar Rp 3,2 miliar. Namun, pelaksanaan proyek di lapangan menghadapi tantangan ekonomi yang cukup berat berupa inflasi harga bahan bangunan pascabencana. Mengantisipasi lonjakan harga semen, pasir, dan keramik yang kerap terjadi setelah bencana, komite sekolah mengambil langkah taktis. Ketua Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan SMPN 2, Saiful Alam, menjelaskan bahwa komite sekolah memutuskan untuk membelanjakan sebagian besar anggaran dari termin pertama lebih awal. Strategi ini terbukti efektif mengamankan pasokan material utama sebelum harga di pasaran melambung tinggi.
Keberhasilan percepatan pemulihan fisik sekolah ini tidak lepas dari metode pembangunan yang diterapkan. Proyek rehabilitasi ini menggunakan skema swakelola padat karya tipe 4. Melalui metode ini, proses pengerjaan tidak diserahkan kepada kontraktor besar, melainkan melibatkan peran aktif dari komite sekolah, wali murid, dan warga sekitar secara bergotong royong. Keterlibatan masyarakat lokal ini tidak hanya memangkas biaya operasional pembangunan, tetapi juga menumbuhkan rasa kepemilikan yang kuat terhadap fasilitas pendidikan anak-anak mereka.
Otorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi Sorotan

Dampak dari rampungnya sebagian besar rehabilitasi ini langsung dirasakan oleh seluruh warga sekolah. Pelaksana tugas Kepala SMPN 2 Karang Baru, Dedek Yusra, menyampaikan bahwa kondisi fisik gedung yang kini lebih representatif sangat menunjang kenyamanan kegiatan belajar mengajar. Rasa syukur juga diungkapkan oleh Lolini Alsyaba, salah seorang guru di sekolah tersebut, yang menilai berdirinya bangunan sekolah yang megah ini menjadi motivasi tambahan bagi para pendidik untuk mengajar dengan lebih baik. Dari sudut pandang pemerintah daerah, Kepala Dinas Pendidikan Aceh Tamiang, Syamsul Rizal, mengapresiasi keberhasilan pemulihan ini sebagai bagian dari pemulihan pendidikan daerah. Di Kabupaten Aceh Tamiang sendiri, SMP Negeri 2 Karang Baru merupakan satu dari 19 sekolah menengah pertama yang terdaftar dalam program PKS Revitalisasi Kemendikdasmen, sementara porsi penerima program terbesar di kabupaten ini ditujukan untuk 123 sekolah dasar.
Secara lebih luas, pemulihan infrastruktur pendidikan di Aceh masih terus berjalan di bawah koordinasi Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) yang dipimpin oleh Tito Karnavian. Provinsi Aceh sendiri memperoleh alokasi dana sebesar Rp 192 miliar untuk menyukseskan program PKS Revitalisasi ini. Menurut data dari Kepala Posko Wilayah Satgas PRR Aceh, Safrizal ZA, tercatat ada 3.120 sekolah yang terdampak bencana di seluruh Provinsi Aceh. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.100 sekolah telah berhasil didorong untuk masuk ke dalam skema program PKS revitalisasi.
Ketentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKN

Sementara itu, sisa sekolah terdampak lainnya masih terus ditangani secara bertahap. Saat ini, terdapat 42 sekolah yang proses rehabilitasinya masih berjalan. Selain itu, pemerintah juga merencanakan relokasi lahan untuk 41 sekolah lainnya karena lokasi lama mereka berada di zona merah yang rawan bencana. Di luar program pemerintah, upaya pemulihan sektor pendidikan juga dibantu oleh berbagai lembaga sosial dan sektor swasta. Mulai 1 Agustus 2026, NU Care-LAZISNU bersama mitra swasta Paragon Corp mulai memfokuskan kegiatan pemulihan pada fasilitas madrasah dan pesantren yang terdampak di wilayah Aceh Tamiang. Di samping itu, lembaga kemanusiaan Human Initiative turut mengambil peran dengan memulihkan ruang kelas di madrasah ibtidaiyah lokal, salah satunya di MIN 4 Aceh Tamiang. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga swasta ini diharapkan dapat segera menuntaskan pemulihan sektor pendidikan di Aceh secara menyeluruh.






