Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengambil keputusan untuk memperbarui rambu-rambu bahaya di sejumlah kawasan wisata. Langkah ini ditempuh sebagai upaya nyata untuk mengantisipasi potensi kecelakaan laut yang dapat mengancam keselamatan para wisatawan maupun warga lokal. Keputusan tersebut diambil menyusul terjadinya kecelakaan fatal yang merenggut korban jiwa di salah satu destinasi wisata pantai di daerah tersebut.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah, Lali Muhammad Hatta, mengungkapkan bahwa sebelumnya seluruh tempat wisata di wilayah tersebut sebenarnya sudah dipasangi rambu-rambu peringatan bahaya. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak dari fasilitas keselamatan tersebut yang kini mengalami kerusakan atau bahkan hilang. Untuk mengatasi kendala ini, Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah sedang mengusulkan anggaran revitalisasi agar rambu-rambu yang rusak dan hilang tersebut dapat segera diganti dengan yang baru. Karena status anggaran ini masih berupa usulan, realisasi pemasangan rambu baru tersebut akan sangat bergantung pada persetujuan dana yang diajukan.
Pembaruan rambu keselamatan ini direncanakan akan dilakukan secara menyeluruh di semua destinasi wisata yang ada di Lombok Tengah. Lokasi-lokasi tersebut mencakup kawasan pantai, air terjun, hingga objek wisata buatan. Bersamaan dengan rencana perbaikan sarana keselamatan ini, Lali Muhammad Hatta mengimbau para wisatawan agar lebih berhati-hati. Wisatawan diminta untuk tidak nekat mengunjungi atau mendekati titik-titik berbahaya di lokasi wisata hanya demi keperluan berswafoto atau merekam video.
Otorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi Sorotan

Upaya pembaruan rambu pengaman ini semakin mendesak setelah terjadinya insiden kecelakaan di Pantai Semeti, Kecamatan Praya Barat. Kawasan Pantai Semeti memang dikenal memiliki karakteristik alam yang cukup berbahaya karena didominasi oleh batu karang yang terjal dan hempasan ombak yang besar. Di lokasi inilah, musibah yang menimpa empat orang wisatawan terjadi pada hari Minggu lalu.
Peristiwa tersebut dilaporkan bermula sekitar pukul 12.00 WITA. Salah seorang korban bernama Sabila, yang berasal dari Desa Sekotong, terjatuh dari tebing karang dan langsung terseret oleh arus ombak. Melihat kejadian tersebut, tiga rekan korban yang berada di lokasi, yaitu Anisa dari Desa Karang Bakan Kuripan, serta Dimas dan Fedi dari Pancor Tempos, berusaha memberikan pertolongan dengan mencoba meraih tubuh Sabila. Namun, upaya penyelamatan mandiri tersebut justru membuat mereka ikut terancam bahaya di tengah deburan ombak besar.
Ketentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKN

Proses evakuasi segera dilakukan oleh tim SAR gabungan Mataram bersama dengan para nelayan setempat. Koordinator Unit Siaga SAR Mandalika, Gde Eka Suarjana, membenarkan adanya upaya penyelamatan terhadap keempat wisatawan yang terjatuh saat berswafoto tersebut. Berkat aksi cepat nelayan setempat, seluruh korban berhasil dievakuasi dari laut dan langsung dibawa menuju Klinik Selong Medical Service untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Hasil dari proses evakuasi tersebut menunjukkan bahwa satu orang korban, yaitu Sabila, ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Sementara itu, tiga rekannya yang mencoba membantu berhasil diselamatkan namun harus menjalani perawatan akibat luka-luka yang mereka derita. Tragedi ini mempertegas pentingnya kesadaran keselamatan dari para pengunjung serta urgensi bagi pemerintah daerah untuk segera merealisasikan pengadaan kembali rambu-rambu peringatan bahaya di titik-titik rawan kecelakaan.






