Pemerintah Indonesia menaruh perhatian serius terhadap ancaman fenomena iklim El Nino yang berpotensi mengganggu stabilitas sektor pertanian nasional. Sebagai langkah antisipasi, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan lima strategi utama yang telah disiapkan oleh pemerintah demi menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan cuaca ekstrem tersebut. Langkah-langkah strategis ini dirancang untuk meminimalisasi dampak kekeringan pada lahan-lahan pertanian di berbagai wilayah Indonesia.
Lima strategi yang disiapkan oleh Kementerian Pertanian meliputi program pompanisasi, rehabilitasi jaringan irigasi, penggunaan varietas benih yang tahan terhadap kekeringan, optimalisasi lahan rawa, serta percepatan program cetak sawah baru. Seluruh program ini dilaporkan telah mulai dijalankan sejak awal masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Langkah cepat tersebut diambil sebagai bentuk respons langsung berdasarkan pengalaman dalam menghadapi dampak El Nino yang terjadi pada periode tahun 2023 hingga 2024 lalu.
Dalam implementasi di lapangan, salah satu fokus utama pemerintah adalah ketersediaan air melalui strategi pompanisasi. Hingga saat ini, pemerintah tercatat telah menyebarkan sekitar 100.000 unit pompa air ke berbagai daerah di seluruh Indonesia. Selain itu, upaya rehabilitasi jaringan irigasi juga terus digenjot melalui kolaborasi erat dengan Kementerian Pekerjaan Umum. Kerja sama lintas kementerian ini telah berhasil menjangkau rehabilitasi saluran irigasi yang areanya kini mendekati angka 900.000 hektare.
Otorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi Sorotan

Tidak hanya fokus pada pengairan lahan eksisting, pemerintah juga memaksimalkan potensi lahan marginal. Kementerian Pertanian mengoptimalkan sekitar 800.000 hektare lahan rawa agar tetap produktif dan menghasilkan komoditas pangan meskipun sedang memasuki musim kemarau. Di samping itu, program perluasan area tanam juga terus dilakukan secara masif, di mana pemerintah telah berhasil mencetak lebih dari 200.000 hektare sawah baru di berbagai wilayah potensial.
Untuk memastikan pasokan pangan masyarakat tetap aman selama menghadapi fase El Nino ini, pemerintah menjaga ketersediaan cadangan pangan nasional. Saat ini, pemerintah masih mengamankan cadangan beras sekitar 5,2 juta ton yang disimpan di gudang-gudang Bulog. Jumlah cadangan tersebut diperkuat dengan perkiraan cadangan beras yang masih berada di lahan pertanian atau berupa tanaman yang siap panen (standing crop) yang jumlahnya diestimasi mencapai 10 hingga 11 juta ton.
Ketentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKN

Sementara itu, dari sektor infrastruktur air, Kementerian Pekerjaan Umum juga telah bergerak aktif guna mendukung ketahanan pangan ini. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menjelaskan bahwa langkah antisipasi dari pihaknya sebenarnya sudah dimulai sejak dua hingga tiga bulan yang lalu. Salah satu upaya konkret yang dilakukan adalah dengan memperbanyak kegiatan pengeboran sumur baru guna mencari dan memanfaatkan sumber air tanah sebagai alternatif pengairan saat musim kering.
Dalam melaksanakan program pengeboran sumur tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum menjalin kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kerja sama ini memanfaatkan teknologi isotop untuk memetakan dan menemukan sumber air tanah secara lebih akurat. Seluruh upaya pengeboran dan penyediaan air ini ditujukan untuk menjaga stabilitas pasokan air ke dalam jaringan irigasi pertanian. Dengan demikian, target besar pemerintah untuk mencapai swasembada pangan pada tahun 2026 dan 2027 mendatang diharapkan dapat tetap terjaga dan terealisasi dengan baik.






