Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus mengalami tekanan. Berdasarkan data perdagangan pada Selasa, 2 Juni 2026, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 34 poin atau 0,19 persen ke level Rp 17.839 per dolar AS. Kondisi ini memberikan dampak pada sektor industri, yang tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia yang berada di bawah level 50. Penurunan indeks ini mengindikasikan bahwa impor barang dari luar negeri tengah mengalami tekanan.
Ketergantungan terhadap pasokan luar negeri turut memengaruhi dampak pelemahan nilai tukar rupiah ini. Gigih Prihantono menyatakan bahwa Indonesia memiliki ketergantungan impor untuk bahan baku, barang setengah jadi, maupun barang jadi. Kenaikan biaya ini pun mulai dirasakan di berbagai sektor. Di sektor otomotif, Astra Otoparts telah menyesuaikan harga pada sebagian produk suku cadangnya. Meski demikian, rata-rata kenaikan harga beberapa suku cadang otomotif di segmen aftermarket tersebut masih berada di bawah 10 persen.
Program MBG di Wilayah 3T Dinilai Buka Akses Pasar bagi Petani dan Peternak Lokal

Di tengah situasi ini, para ahli memberikan pandangan mengenai dampak pelemahan mata uang tersebut. Eddy Junarsin menilai pelemahan nilai tukar rupiah dapat berdampak baik karena membuat harga produk asal Indonesia menjadi lebih murah di mata pasar internasional sehingga lebih bersaing. Namun, Rijadh Djatu Winardi mengingatkan bahwa pelemahan rupiah dapat meningkatkan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, hingga produk kesehatan, serta memperbesar nilai pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri dalam rupiah.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto sempat menyinggung nilai tukar rupiah yang melemah hingga menembus Rp 17.500 per dolar AS. Sementara itu, Bhima Yudhistira mengingatkan bahwa depresiasi rupiah terhadap dolar AS telah mencapai sekitar 7 persen dalam satu tahun terakhir hingga sempat menyentuh Rp 17.600. Bhima menekankan bahwa dampak pelemahan rupiah tersebut tetap akan menjalar hingga ke biaya hidup di tingkat pedesaan.
Hadir Serentak di 131 Lokasi, BRI KKB National Expo 2026 Raih Rekor MURI

Faktor eksternal dan domestik turut memicu tekanan terhadap mata uang nasional. Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assu'aibi, menyebut rupiah telah melemah menembus level Rp 17.400 per dolar AS dan menargetkan nilai tukar dapat mencapai Rp 17.550 dalam pekan ini. Ia menyoroti ketegangan geopolitik, seperti instruksi Trump kepada Angkatan Laut AS di Laut Oman untuk menguasai Selat Hormuz, yang berujung pada hancurnya lebih dari lima kapal perang kecil Iran. Selain itu, serangan drone Ukraina ke fasilitas kilang minyak Rusia turut mengganggu pasokan energi global. Di dalam negeri, intervensi Bank Indonesia di pasar internasional, domestik, obligasi, dan surat utang negara untuk menjaga stabilitas rupiah berimplikasi pada menyusutnya cadangan devisa Indonesia.






