Kabar mengenai menipisnya stok persenjataan Amerika Serikat memicu ketegangan baru di Washington. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa cadangan senjata ofensif dan defensif milik negara adidaya tersebut telah merosot ke tingkat yang mengkhawatirkan. Meskipun demikian, Gedung Putih dan Pentagon dengan tegas menepis kabar tersebut dan menyatakan kesiapan militer mereka tetap terjaga. Di tengah bantahan resmi ini, dinamika internal menunjukkan adanya kekhawatiran mendalam dari para petinggi militer mengenai ketahanan logistik mereka untuk menghadapi potensi konflik di masa depan.
Pangkal dari penurunan tajam cadangan amunisi ini adalah pertempuran intensif yang berlangsung selama lima bulan melawan Iran. Konflik ini semakin memanas setelah nota kesepahaman (MoU) untuk menghentikan pertempuran yang disepakati Washington dan Teheran pada Juni lalu gagal bertahan. Runtuhnya kesepakatan tersebut langsung memicu aksi saling serang yang berlangsung selama hampir dua pekan penuh. Akibatnya, militer Amerika Serikat terpaksa menguras inventaris pertahanan udara mereka dalam jumlah besar untuk menangkal serangan udara lawan yang datang bertubi-tubi.








