Sabtu pagi di Rusun ASN 3 Tower 6 masih terasa sepi ketika Troy Harold Yohanes Pantouw beraktivitas seperti biasa. Sejak pukul enam, ia bangun dan mempersiapkan diri untuk satu agenda yang bukan sekadar tugas kedinasan, melainkan panggilan pribadi: memimpin ibadah di sebuah gereja di Balikpapan. Baginya, hari itu seharusnya menjadi perjalanan rutin yang menghubungkan pengabdian sebagai Juru Bicara Otorita Ibu Kota Nusantara dengan dedikasi spiritual yang ia jalani.
Jadwal keberangkatan pukul delapan tak pernah terpenuhi. Sopir pribadi yang sudah menanti mulai merasakan gelisah ketika pesan dan panggilan telepon tak berbalas. Kekhawatiran itu berubah menjadi tindakan setelah ketukan di pintu dan panggilan nama tak kunjung mendapat jawaban. Di koridor rumah susun yang biasanya ramai oleh langkah kaki para ASN, pagi itu mendadak berubah sunyi mencekam. Pilihan untuk membuka paksa pintu yang terkunci menjadi satu-satunya cara memecahkan keheningan yang menggantung.
Di dalam kamar, Troy ditemukan terbaring di tempat tidur dalam kondisi tak bernapas. Thomas Umbu Pati Tena Bolodadi, Deputi Bidang Pengendalian Pembangunan yang tinggal di seberang kamar almarhum, mengonfirmasi bahwa Troy segera dilarikan ke RS Hermina IKN sekitar pukul 12.45 Wita. Namun harapan hanya bertahan singkat. Pemeriksaan medis berujung pada pernyataan pukul 14.25: Troy mengembuskan napas terakhir karena sebab alami. Kelak, keterangan keluarga menyebutkan bahwa almarhum rutin mengonsumsi obat pengendali hipertensi, sebuah catatan bisu tentang riwayat kesehatannya yang selama ini dijaga.
Tanpa Rompi Pink, Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Menolak Penahanan Dini Hari

Kepergian Troy membuka lembaran perjalanan panjang yang jarang tersorot. Ia adalah bagian dari generasi awal pembangunan IKN, satu dari sedikit pejabat yang ikut merasakan langsung denyut awal pemindahan ibu kota. Bersama Thomas Umbu Pati dan Myrna Safitri, Troy ditunjuk membantu Kepala Otorita IKN saat itu, Bambang Susantono, sejak 2021. Di masa itu, lokasi ibu kota baru masih berupa hamparan hutan tanaman industri. Kantor pun belum berdiri; mereka harus menempuh dua jam perjalanan darat dari Balikpapan setiap hari. Rusun ASN yang kini menjadi hunian keseharian mereka adalah titik akhir perjuangan logistik yang penuh cerita.
Tak banyak yang tahu bahwa di balik pernyataan pers dan rilis resmi yang menjadi tanggung jawabnya, Troy menyimpan ritme hidup sederhana. Kamar di tower enam itulah yang menjadi saksi hari-hari terakhirnya. Malam sebelum Sabtu, mungkin ia sudah menyiapkan catatan kecil untuk khotbah, atau sekadar membaca ulang renungan yang akan dibagikan. Kenyataan pagi itu justru menulis narasi lain: seorang pejabat publik kembali kepada Sang Pencipta dalam keheningan kamar hunian yang justru ia banggakan sebagai bagian dari proyek monumental republik.
Kedatangan Tanpa Kata Eks Jampidsus di Rutan KPK

Jenazah Troy lantas diterbangkan ke Jakarta setelah proses administrasi dan penghormatan di RS Hermina IKN, diperkirakan tiba di rumah duka pada Minggu pagi. Di Nusantara, duka itu tak hanya terpampang sebagai berita, melainkan meresap di antara deretan tower ASN yang masih menyisakan ribuan mimpi. Dalam sunyi yang sama, jejak Troy akan dikenang sebagai suara yang memperkenalkan IKN kepada Indonesia, hingga pagi itu ia berhenti di ruang istirahat, sebelum sempat memimpin doa.






