Langkah pengembangan kendaraan listrik roda dua di dalam negeri memasuki babak baru setelah Presiden Prabowo Subianto meresmikan Ekosistem Motor Listrik Nasional (Molinas) pada Kamis (13/8) lalu. Peresmian tersebut berlangsung di fasilitas produksi PT Ilectra Motor Group (ALVA) yang berlokasi di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Proyek ini dirancang secara menyeluruh guna membangun kemandirian industri otomotif ramah lingkungan di tanah air.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa ekosistem ini tidak hanya berfokus pada perakitan unit kendaraan. Cakupannya membentang dari hulu ke hilir, mulai dari pengembangan industri dan manufaktur, penyediaan komponen dan baterai, pembangunan infrastruktur pengisian daya serta penukaran baterai (battery swapping), skema pembiayaan, distribusi, layanan purnajual, hingga strategi penguatan penyerapan pasar. Untuk mengoordinasikan seluruh pemangku kepentingan tersebut, PT Len Industri ditunjuk sebagai lead integrator. Saat ini, kapasitas produksi Molinas tercatat sebesar 100 ribu unit per tahun dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) awal sebesar 40 persen, yang ditargetkan meningkat hingga 60 persen.
Wakil Ketua Komisi VII Dorong Penguatan Industri Kendaraan Listrik Nasional

Melalui peta jalan ini, pemerintah memproyeksikan dampak finansial yang signifikan terhadap anggaran negara. Dalam diskusi bertajuk "Navigating The Challenges of The Motor Vehicle Industry" di Jakarta Pusat pada Kamis (20/8), Asisten Deputi Pengembangan Industri Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Atong Soekirman memaparkan hitungan terbarunya. Proyek Molinas diprediksi bisa tekan subsidi BBM hingga Rp82 T. Secara lebih rinci, potensi penghematan dari pembatasan subsidi bahan bakar minyak (BBM) tersebut diperkirakan mampu menyentuh angka Rp82,2 triliun, dengan syarat operasional motor listrik di jalan raya dapat mencapai 11 juta unit pada tahun 2037 mendatang.
Selain menekan beban subsidi energi, kehadiran ekosistem ini diproyeksikan memberikan efek berganda bagi perekonomian nasional. Atong menambahkan bahwa substitusi impor dari program ini berpotensi memperkuat neraca perdagangan Indonesia hingga Rp45 triliun. Secara keseluruhan, nilai ekonomi dari ekosistem Molinas dari ujung ke ujung (end-to-end) ditaksir mencapai Rp150 triliun selama periode 2026 hingga 2031. Sektor ketenagakerjaan juga akan mendapat dampak positif dengan proyeksi penciptaan lapangan kerja baru bagi kurang lebih 215 ribu orang.
PLN Seleksi Lahan Kementerian untuk Proyek PLTS dan BESS

Terkait kesiapan produk di pasar, Managing Director Industrialisasi Danantara Indonesia Ardy Muawin memastikan bahwa unit-unit kendaraan Molinas saat ini sudah siap untuk digunakan oleh masyarakat. Dua merek lokal yang menjadi andalan dalam ekosistem ini adalah Alva dan Gesit. Guna mempermudah akses kepemilikan bagi masyarakat luas, Danantara kini tengah bekerja sama dengan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk merumuskan struktur pembiayaan yang tepat agar harga jual motor listrik tersebut menjadi lebih terjangkau.






