Militer Myanmar dilaporkan berhasil memukul mundur kelompok-kelompok bersenjata di wilayah Bago tengah dan Dawei selatan menyusul peluncuran taktik medan perang baru serta serangan intensif. Perkembangan terbaru ini menandai babak baru dalam perang saudara di negara tetangga Indonesia tersebut, di mana kekuatan militer yang sebelumnya diperkirakan berada di ambang keruntuhan kini justru menunjukkan tanda-tanda pemulihan kekuatan di lapangan.
Eskalasi taktis yang dilancarkan oleh militer Myanmar ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Keberhasilan mereka di medan tempur didukung oleh skema wajib militer berskala besar yang diterapkan baru-baru ini serta dukungan kritis dari sekutu utama mereka, China. Menurut analisis dari analis independen Aung Ko Ko, militer Myanmar terbukti belum runtuh. Sebaliknya, institusi pertahanan junta tersebut dinilai berhasil bertahan, baik dari sudut pandang politik maupun militer, di tengah tekanan konflik yang berkepanjangan.








