Menteri Pendidikan India Mundur, Sorak Sorai ‘Partai Kecoa’ Pecah di Jantung Delhi

Nyaring AranPublished 26 Jul 2026 - 08.18 · 1 Reads
Bagikan WhatsAppX
Menteri Pendidikan India Mundur, Sorak Sorai ‘Partai Kecoa’ Pecah di Jantung Delhi
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Sabtu pagi di ibu kota India berubah menjadi perayaan yang tak lazim. Puluhan ribu anak muda yang menamakan diri Partai Janata Kecoa—sebuah plesetan tajam terhadap mesin politik tradisional—menyambut pengumuman pengunduran diri Menteri Pendidikan Sharmendra Pradhan dengan gegap gempita. Padahal, beberapa jam sebelumnya mereka masih bersiap memasuki ruang perundingan bersama perwakilan pemerintah untuk menekan tuntutan yang sama. Keputusan Pradhan yang disampaikan melalui media sosial, tepat sebelum dialog dijadwalkan, seketika mengubah kemarahan yang telah mendidih sejak Mei menjadi luapan lega di Jantar Mantar, kawasan bersejarah yang selama ini menjadi medan suara kaum muda.

Pradhan mengirim surat pengunduran diri kepada Perdana Menteri Narendra Modi. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa langkah itu diambil agar kekuatan anti-sosial tidak memperalat situasi yang memanas di Jantar Mantar dan seluruh negeri. “Saya menghormati aspirasi, perasaan, dan harapan sah dari generasi muda negara ini,” tulisnya, mengisyaratkan betapa kuat tekanan yang datang dari jalanan. Sikap itu menjadi titik balik bagi seorang menteri yang selama berbulan-bulan menjadi target protes, namun pula mengguratkan pertanyaan tentang seberapa rapuh fondasi kepercayaan terhadap sistem pendidikan ketika ia bisa ditumbangkan oleh gerakan akar rumput bernama ganjil.

Also Read

Pertarungan Sengit Menuju Pucuk PBB, Siapa Pengganti Guterres?

Protes ini bukan sekadar aksi spontan. Partai Janata Kecoa—CJP, singkatan yang dengan cerdas membalikkan stigma hama menjadi identitas perlawanan—lahir dari amarah kolektif jutaan siswa yang terkoyak oleh kebocoran soal-soal ujian nasional. Skandal yang terkuak sejak Mei itu bukan yang pertama di India, tetapi kedalaman lukanya kali ini menusuk lebih dalam: lebih dari selusin siswa mengakhiri hidup karena rasa putus asa dan ketidakadilan yang mereka hadapi. Nama “Kecoa” dipilih bukan untuk merendahkan diri, melainkan untuk menegaskan bahwa mereka mungkin dianggap hama oleh kekuasaan, namun justru itulah yang membuat mereka sulit dimusnahkan.

Pekan ini, kemarahan itu meledak dalam wujud yang lebih besar. Ratusan ribu mahasiswa dan anak muda membanjiri jalan-jalan Delhi dalam demonstrasi damai. Namun jawaban yang mereka terima adalah gas air mata dan pentungan polisi. Ratusan orang terluka, suasana berubah mencekam, dan bentrokan itu semakin menebalkan narasi bahwa suara mereka ingin dibungkam. Ironisnya, kekerasan tersebut menjadi bensin tambahan bagi gerakan: semakin banyak luka, semakin keras tuntutan agar Pradhan turun. Pemerintah yang semula akan menggelar pertemuan resmi dengan perwakilan CJP pagi itu mendapati menterinya sudah lebih dulu meninggalkan jabatan.

Also Read

Indonesia Pelanggan Pertama di Asia untuk Jet Tempur Ringan M-346F Block 20

Drama pengunduran diri ini membuka lembaran baru dalam dinamika politik mahasiswa India. Di satu sisi, kemenangan simbolik Partai Kecoa menunjukkan bahwa tekanan jalanan tetap mampu mematahkan figur tinggi negara. Namun di sisi lain, lubang yang ditinggalkan tak langsung menambal krisis kepercayaan di sektor pendidikan yang telah merenggut nyawa belasan pelajar. Pradhan boleh mundur, tetapi sistem yang gagal menjaga kesucian ujian tetap utuh. Kini, sorak sorai di Delhi mereda, berganti menjadi harapan hati-hati bahwa pengorbanan mereka tidak berhenti sebagai seremoni perpisahan seorang menteri.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca