Bagi para pelancong yang sering berkunjung ke Kota Yogyakarta, keberadaan dua stasiun kereta api utama yang letaknya sangat berdekatan tentu bukan hal yang asing lagi. Stasiun Yogyakarta, yang lebih populer dengan nama Stasiun Tugu, dan Stasiun Lempuyangan hanya berjarak sekitar satu kilometer. Kedua stasiun ini sama-sama menjadi pintu masuk penting bagi perjalanan kereta api yang menuju dan meninggalkan Kota Gudeg. Namun, mengapa stasiun-stasiun besar ini dibangun begitu dekat satu sama lain? Sejarah perkeretaapian di masa kolonial Belanda memegang kunci di balik keunikan tata kota ini.
Sejarah mencatat bahwa pembangunan kedua stasiun ini diprakarsai oleh dua pihak yang berbeda dengan kepentingan masing-masing. Stasiun Lempuyangan, yang berlokasi di kawasan Danurejan, didirikan oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), sebuah perusahaan kereta api swasta asal Belanda. NISM membangun jaringan rel yang menghubungkan Semarang dengan wilayah Vorstenlanden, yang mencakup Yogyakarta dan Surakarta. Pada masa itu, Vorstenlanden dikenal sebagai wilayah subur yang menjadi pusat produksi berbagai komoditas perkebunan bernilai tinggi, seperti gula dan tembakau. Hasil bumi ini harus diangkut dengan cepat menuju pelabuhan di Semarang untuk diekspor.
Otorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi Sorotan

Stasiun Lempuyangan resmi mulai beroperasi pada tanggal 10 Juni 1872. Kehadirannya menandai tonggak sejarah baru karena Lempuyangan merupakan stasiun kereta api pertama yang berdiri di Kota Yogyakarta. Adapun penamaan Lempuyangan sendiri diambil dari nama lokasi tempat stasiun tersebut didirikan, yaitu Kampung Tegal Lempuyangan. Setelah Indonesia meraih kemerdekaannya, pengelolaan stasiun bersejarah ini beralih dan dijalankan oleh PT KAI. Karena nilai sejarahnya yang tinggi, bangunan Stasiun Lempuyangan kini telah ditetapkan sebagai Bangunan Stasiun Cagar Budaya berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Nomor 120/KEP/2010 dan Peraturan Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 188 Tahun 2014.
Beberapa tahun setelah Stasiun Lempuyangan beroperasi, pemerintah kolonial Belanda memutuskan untuk ikut membangun infrastruktur kereta api sendiri. Melalui perusahaan kereta api milik negara yang bernama Staatsspoorwegen (SS), pemerintah kolonial mendirikan stasiun baru yang posisinya berada di sebelah barat Stasiun Lempuyangan. Stasiun baru ini kemudian dikenal sebagai Stasiun Tugu atau Stasiun Yogyakarta. Stasiun Tugu mulai resmi beroperasi pada tahun 1887, melengkapi jaringan transportasi rel di Yogyakarta dan menjadi pesaing stasiun swasta yang sudah ada sebelumnya.
Ketentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKN

Hingga saat ini, kedua stasiun yang hampir menempel ini masih aktif beroperasi dan memiliki pembagian peran yang berbeda dalam melayani masyarakat. Stasiun Tugu, yang menggunakan kode pemesanan YK atau Yogyakarta, difokuskan untuk melayani perjalanan kereta api kelas eksekutif dan kelas bisnis. Di sisi lain, Stasiun Lempuyangan, dengan kode pemesanan LPN atau Lempuyangan, dialokasikan untuk melayani perjalanan kereta api kelas ekonomi serta kereta komuter. Dengan pembagian fungsi tersebut, kedua stasiun warisan sejarah ini tetap bersinergi menyokong mobilitas warga dan wisatawan di Yogyakarta.






