Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melakukan rangkaian kunjungan kerja ke wilayah Jawa Tengah, tepatnya di Kota Semarang dan Kabupaten Batang. Dalam kunjungan tersebut, Kepala Negara melaksanakan dua agenda penting yang berfokus pada pembangunan infrastruktur transportasi publik bernilai sejarah serta penyediaan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Selama melakukan kegiatan di dua lokasi tersebut, Presiden tampak mengenakan setelan safari berwarna krem yang khas.
Agenda pertama Presiden dimulai di Kota Semarang. Prabowo tiba di Stasiun Semarang Tawang pada pukul 11.10 WIB untuk meresmikan hasil renovasi tahap pertama dari bangunan cagar budaya tersebut. Proyek pemugaran stasiun bersejarah ini dikerjakan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang. Proses pengerjaan renovasi memakan waktu selama 240 hari, yang terhitung mulai tanggal 5 Mei hingga berakhir pada 30 Desember 2025.
Upaya renovasi ini difokuskan untuk mengembalikan fasad Stasiun Semarang Tawang agar sesuai dengan bentuk aslinya. Desain awal bangunan ini dirancang oleh arsitek asal Belanda, Sloth-Blauwboer. Stasiun legendaris ini sendiri pertama kali dibangun oleh perusahaan Nederlandsch-Indische Maatschappij (NISM) pada tahun 1911 dan resmi beroperasi setelah diresmikan pada tahun 1914. Guna menjaga nilai historis dari bangunan bersejarah ini, proses renovasi turut melibatkan para ahli cagar budaya serta dilaksanakan dengan mematuhi ketentuan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Otorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi Sorotan

Di sela-sela peresmian tersebut, Presiden Prabowo menegaskan pentingnya peran transportasi perkeretaapian bagi masyarakat luas. Ia menyatakan bahwa kereta api harus berfungsi untuk melayani rakyat. Menurutnya, di berbagai negara, kereta api dipandang sebagai bentuk pelayanan publik (public service) yang tidak semata-mata ditujukan untuk mengejar keuntungan finansial, melainkan harus berjalan dengan efisien. Lebih lanjut, ia menggambarkan kereta api sebagai instrumen ekonomi rakyat sekaligus instrumen nyata dari demokratisasi ekonomi.
Presiden juga meminta adanya peningkatan investasi di sektor perkeretaapian nasional. Salah satu poin penting yang ia soroti adalah perlunya pemasangan pintu perlintasan sebidang yang layak atau bahkan otomatis pada ribuan titik perlintasan kereta api yang masih ada. Langkah ini dinilai sangat krusial untuk mencegah terjadinya kecelakaan di berbagai wilayah.
Setelah menyelesaikan agenda di Semarang, Presiden Prabowo melanjutkan perjalanan dinasnya ke Kabupaten Batang. Ia tiba di Batang pada pukul 14.00 WIB, masih dengan mengenakan setelan safari krem yang sama. Kehadiran Presiden di Batang bertujuan untuk menyaksikan secara langsung prosesi Akad Massal Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Sejahtera yang disalurkan melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
Ketentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKN

Kegiatan akad massal ini merupakan bagian dari Program Tiga Juta Rumah yang terus didorong oleh pemerintah saat ini. Program tersebut dirancang untuk memperluas akses kepemilikan hunian yang layak bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Prosesi akad massal ini diselenggarakan secara hibrida (hybrid) dengan melibatkan sebanyak 62.000 debitur yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Acara yang berlangsung di Batang tersebut juga dihadiri oleh sejumlah tokoh penting. Di antaranya adalah Menteri Agama Nasaruddin Umar yang turut menyaksikan jalannya prosesi. Selain itu, doa bersama dalam agenda akad massal puluhan ribu rumah subsidi tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kiai Zulfa Mustofa, yang merupakan tokoh agama terkemuka asal Banten.






