Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) bersiap memasukkan FIFA ASEAN Cup ke dalam kalender resmi mulai September 2026. Turnamen baru ini sebelumnya telah diumumkan seiring dengan penandatanganan nota kesepahaman baru antara FIFA dan ASEAN pada Oktober 2025. Langkah ini diproyeksikan bakal mengubah lanskap kompetisi regional yang selama ini menjadi domain penuh Federasi Sepak Bola Asia Tenggara (AFF).
Sebagai turnamen perdana, FIFA ASEAN Cup direncanakan bakal diikuti oleh 14 negara melalui jalur undangan. FIFA juga akan memboyong sejumlah teknologi mutakhir untuk menunjang jalannya pertandingan, mulai dari teknologi garis gawang (Goal-line Technology), Video Assistant Referee (VAR), hingga Football Video Support. Kehadiran turnamen ini menjadi babak baru setelah sekian lama kawasan ini mengandalkan turnamen besutan AFF yang dimulai sejak 1996 lewat Piala Tiger, yang kemudian berganti-ganti nama menjadi AFF Championship, AFF Suzuki Cup, Mitsubishi Electric Cup, hingga kini dikenal sebagai ASEAN Championship. AFF sendiri didirikan pada 1984 atas inisiatif enam asosiasi sepak bola di Asia Tenggara, dan baru pada 1996 mereka mendirikan turnamen regional untuk menegaskan identitas sepak bola kawasan sekaligus menyokong finansial organisasi.
Gagal di Piala AFF 2026, Timnas Indonesia Alihkan Fokus ke FIFA ASEAN Cup

Kendati menawarkan kemegahan teknologi, kehadiran FIFA ASEAN Cup membawa aturan main yang sangat ketat dan memusatkan seluruh kendali di tangan FIFA. Merujuk pada Pasal 42 regulasi turnamen tersebut, FIFA memegang hak eksklusif tanpa batas atas seluruh aset komersial, termasuk hak siar, pemasaran, multimedia, sponsor, hingga identitas visual. Tidak hanya itu, Pasal 38 juga mewajibkan seluruh asosiasi peserta untuk tunduk sepenuhnya pada aturan pertiketan yang diterbitkan oleh FIFA.
Dari sisi finansial, regulasi turnamen ini membebankan tanggung jawab yang tidak sedikit bagi negara peserta. Meski Pasal 37 menyebutkan bahwa peserta tidak ditarik biaya pendaftaran, mereka wajib menanggung sendiri seluruh biaya operasional seperti asuransi delegasi, penginapan hotel, dan logistik tambahan. FIFA juga menerapkan sanksi denda yang ketat bagi tim yang memutuskan mundur. Berdasarkan Pasal 5.2, tim yang mundur lebih dari 30 hari sebelum kompetisi dimulai akan dikenai denda sebesar 15.000 Franc Swiss, sedangkan pengunduran diri kurang dari 30 hari sebelum sepak mula dikenai denda sebesar 20.000 Franc Swiss. Lebih jauh lagi, Pasal 5.5 mengatur bahwa tim yang mundur saat turnamen berlangsung atau menyebabkan pertandingan batal wajib membayar ganti rugi serta kehilangan hak atas klaim remunerasi finansial dari FIFA.
BWF Rilis Kalender Turnamen Bulu Tangkis 2026, Indonesia Jadi Tuan Rumah Berbagai Ajang Bergengsi

Kehadiran FIFA ASEAN Cup ini bergulir di tengah sorotan tajam terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino yang dituding semakin gencar memanfaatkan sepak bola untuk berbagai proyek komersial. Skema ini serupa dengan langkah FIFA menghidupkan kembali Arab Cup menjadi FIFA Arab Cup pada 2021 setelah sempat terhenti sejak 2012, dan melanjutkannya pada 2025. Sebelumnya, ambisi komersial Infantino juga terlihat lewat proyek FIFA Forward Enterprise (FFE) yang berniat mendirikan perusahaan baru senilai 20 miliar USD untuk mengelola aset komersial termasuk Piala Dunia dengan menjual saham ke investor swasta. Namun, proyek FFE tersebut mendapat penolakan keras dari UEFA, CONCACAF, dan AFC, hingga memicu mundurnya penasihat senior Carlos Cordeiro dari FIFA, serta mendapat dukungan pembatalan dari Ars猫ne Wenger yang menyebutnya sebagai langkah yang wajib dilakukan.






