Perjalanan hidup Sudono Salim, atau yang juga dikenal dengan nama Liem Sioe Liong, sebagai salah satu konglomerat terkemuka di Indonesia menyimpan berbagai kisah menarik. Di balik kesuksesan gurita bisnisnya, terdapat sisi spiritual dan kepercayaan personal yang kuat yang kerap ia jalankan. Salah satu kebiasaan yang rutin ia lakukan adalah melakukan perjalanan spiritual ke kawasan Gunung Kawi di Jawa Timur untuk mencari petunjuk sebelum memulai proyek bisnis besar.
Sudono Salim diketahui secara rutin menempuh perjalanan dari Surabaya menuju Gunung Kawi. Perjalanan yang memakan waktu sekitar tiga jam tersebut ia lakukan sebanyak tiga hingga lima kali dalam setahun. Setibanya di sana, ia biasanya berdiam diri di sebuah kuil Tionghoa. Sebelum memulai proyek bisnis berskala besar, Salim selalu menyempatkan diri untuk meminta petunjuk kepada peramal serta menjalankan sejumlah ritual tertentu di tempat tersebut.
Dalam proses mencari petunjuk tersebut, salah satu metode ramalan yang kerap digunakan oleh Salim adalah dengan menggoyang-goyangkan sebuah tabung bambu. Tabung bambu ini berisi lidi-lidi yang masing-masing memiliki tulisan tertentu. Salim akan menggoyang tabung tersebut hingga sebatang lidi terjatuh keluar. Tulisan yang tertera pada lidi yang jatuh itulah yang kemudian akan dibaca dan ditafsirkan oleh rahib atau peramal setempat untuk menentukan langkah bisnisnya.
Otorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi Sorotan

Kepercayaan terhadap petunjuk spiritual ini juga memengaruhi keputusan bisnis penting dalam hidup Salim, termasuk kemitraannya yang bersejarah dengan bankir Mochtar Riady. Pada tahun 1975, sebuah pertemuan yang tidak direncanakan terjadi antara Sudono Salim dan Mochtar Riady di dalam sebuah penerbangan menuju Hong Kong. Dalam percakapan di pesawat tersebut, Mochtar Riady mengungkapkan keinginannya untuk membangun sebuah bank baru. Di saat yang sama, Salim juga sedang mencari sosok yang dinilai mampu mengelola tiga bank miliknya, yaitu Bank Windu Kencana, Bank Dewa Ruci, dan Bank Central Asia (BCA).
Keputusan Salim untuk akhirnya bekerja sama dengan Mochtar Riady tidak diambil secara sembarangan, melainkan dipengaruhi oleh petunjuk dari seorang peramal. Setelah kembali dari perjalanannya menemui peramal di Gunung Kawi, Salim dengan penuh keyakinan menyatakan bahwa dirinya akan menjadi "Tang Sheng" bagi Mochtar. Kemitraan ini terbukti membuahkan hasil yang luar biasa. Di bawah kepemimpinan Mochtar Riady, BCA berkembang pesat dan berhasil menjadi bank swasta terbesar di Indonesia sejak dekade 1980-an hingga saat ini.
Ketentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKN

Jauh sebelum kemitraan dengan Mochtar Riady terjalin, kepekaan Salim terhadap aspek feng shui juga sudah terlihat jelas. Pada tahun 1968, Salim bersama dengan kelompok konglomerat yang dikenal sebagai "Gang of Four"鈥攜ang beranggotakan dirinya sendiri, Sudwikatmono, Djuhar Sutanto, dan Ibrahim Risjad鈥攕edang bersiap untuk memulai sebuah usaha bersama.
Dalam masa persiapan tersebut, Salim bersikeras untuk menggunakan sebuah ruangan kerja yang sangat sempit. Ruangan yang dipilih Salim tersebut hanya dilengkapi dengan satu meja, satu telepon, dan dua kursi, serta tanpa dilengkapi pendingin udara (AC). Meskipun kondisinya sangat sederhana dan terbatas, Salim tetap bersikeras menggunakannya karena ia meyakini bahwa lokasi tersebut memiliki feng shui yang sangat baik untuk menunjang kelangsungan bisnis mereka.






