Kisah Momon dan Benih yang Tak Jadi Tersebar

Usat NgajiPublished 26 Jul 2026 - 01.340 Reads
Bagikan WhatsAppX
Kisah Momon dan Benih yang Tak Jadi Tersebar
Foto/Ilustrasi: cnnindonesia.com.
A-A+

Di balik rimbunnya perkebunan kopi Selapak di Kecamatan Ijen, Bondowoso, sebuah drama sunyi tentang terputusnya rantai ekologis nyaris sempurna tertutup waktu. Sekitar tiga atau empat tahun silam, seekor bayi Lutung Jawa meringkuk sendirian di antara batang-batang kopi yang basah oleh embun. Tak ada tanda-tanda induknya, meninggalkan makhluk mungil berbulu hitam legam itu dalam cengkeraman ketidakpastian. Ia adalah Momon, sosok yang kisahnya baru saja mencapai babak baru setelah sekian lama menjalani kehidupan yang jauh dari kodrat liarnya.

Momon ditemukan oleh seorang warga Desa Sukosari Lor yang tengah beraktivitas di sekitar kebun. Rasa iba yang manusiawi mendorong warga tersebut untuk membawa pulang primata kecil itu, membalutnya dengan perawatan ala kadarnya, dan memberinya nama. Tanpa disadari, tindakan penyelamatan spontan itu menutup satu pintu bagi alam: selama bertahun-tahun, Momon terikat di pekarangan rumah, jauh dari perannya sebagai mesin penyebar benih yang vital. Lutung Jawa dikenal sebagai arsitek hutan ulung, yang melalui konsumsi buah dan pencernaan bijinya, ia berperan meregenerasi vegetasi dan menjaga keseimbangan ekosistem. Setiap hari yang dilewati Momon dalam ikatan, setiap biji yang tak jadi disebar, adalah kepingan puzzle ekologis yang hilang dari lanskap Ijen.

Also Read

Dari Gas Air Mata ke Tarian, Bagaimana Pemuda India Memaksa Menteri Pendidikan Mundur

Samar takdir mulai menampakkan sosoknya ketika seorang paramedis veteriner dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bondowoso melaksanakan sensus ternak di desa tersebut. Di tengah rutinitas pendataan hewan-hewan domestik, matanya menangkap pemandangan kontras: seekor lutung dewasa dalam kondisi terikat. Insting profesionalnya segera menangkap anomali. Laporan bergulir cepat, dari sang paramedis ke drh. Zumara Mufida, lalu diteruskan ke Bidang KSDA Wilayah III Jember. Roda birokrasi konservasi yang biasanya berputar lambat, kali ini bergerak dalam harmoni yang presisi. Balai Besar KSDA Jawa Timur tak membuang waktu, merangkul Bhabinkamtibmas, Babinsa, hingga Pemerintah Desa Sukosari Lor untuk merajut pendekatan humanis. Di sinilah seni diplomasi konservasi diuji, meyakinkan pemelihara bahwa kandang terbaik bagi Momon bukanlah ikatan tali, melainkan kemungkinan untuk kembali menjadi bagian dari simfoni hutan.

Pendekatan persuasif itu berbuah manis. Sang pemelihara, yang selama ini merawat Momon dengan ketidaktahuan akan prosedur penemuan satwa liar dilindungi, akhirnya menyerahkannya secara sukarela kepada negara. Sebuah akhir yang melegakan, tanpa riak konflik. Kini, Momon tidak sedang menuju hutan lepas, melainkan ke sebuah ruang transisi bernama Jember Mini Zoo. Di bawah pengawasan Lembaga Konservasi, ia memulai babak observasi perilaku dan pemeriksaan kesehatan menyeluruh. Proses rehabilitasi ini menjadi semacam ruang introspeksi, menilai apakah bertahun-tahun hidup berdampingan dengan manusia telah memadamkan seluruh naluri liarnya. Setiap langkah kakinya diamati, setiap responnya dicatat, untuk menjawab pertanyaan besar: bisakah Momon kembali mewarisi tahta ekologisnya sebagai penyebar kehidupan?

Also Read

Saat Mimpi ke Tanah Suci Terganjal Pagu Delapan Persen

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, menegaskan bahwa evakuasi Momon adalah panggung nyata dari kolaborasi yang tak bisa ditawar. Di bawah arahan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, komitmen memperkuat benteng perlindungan satwa liar menuntut sinergi yang merentang dari tingkat akar rumput. "Keberhasilan evakuasi Momon menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas pihak. Sinergi antara masyarakat, dinas terkait, aparat keamanan, dan BBKSDA memungkinkan proses berlangsung persuasif dan tanpa konflik," ujarnya. Momon kini menjadi simbol bahwa menyelamatkan satu nyawa satwa adalah menyelamatkan jutaan potensi kehidupan lain di masa depan. Bagi masyarakat yang mungkin suatu hari menemukan serpihan hutan yang tersesat di pekarangan, ingatlah bahwa panggilan telepon ke petugas kehutanan terdekat adalah tindakan heroik pertama untuk memulihkan rantai makanan dan doa-doa pertumbuhan hujan yang telah lama tertunda.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca