Bagaimana prospek bisnis dan pergerakan saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) di tengah tekanan harga komoditas global saat ini? Pertanyaan ini menjadi perhatian bagi para pelaku pasar yang mengamati langkah strategis emiten yang merupakan anggota holding industri pertambangan BUMN, MIND ID. Meskipun posisi strategis perseroan diperkuat oleh integrasi holding, kondisi pasar nikel dunia yang fluktuatif tetap membayangi kinerja keuangan perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan terbaru, PT Vale Indonesia Tbk membukukan kinerja keuangan negatif pada kuartal II dan semester I tahun 2025. Penurunan fundamental ini terjadi seiring dengan melemahnya rata-rata harga nikel. Pendapatan perseroan sepanjang semester I 2025 terkoreksi menjadi US$ 426,73 juta dari US$ 478,75 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, laba kuartalan perseroan merosot tajam menjadi US$ 3,5 juta pada kuartal II 2025 dibandingkan dengan US$ 21,8 juta pada kuartal I 2025. Penyusutan laba kuartalan yang signifikan ini terjadi akibat keuntungan satu kali (one-off) atas pengakuan nilai wajar aset derivatif sebesar US$ 16,6 juta.
Laporan Inflasi Bulanan Indeks Harga Konsumen BPS Tunjukkan Fluktuasi Harga Sepanjang 2026

Dari sisi operasional, EBITDA perseroan pada kuartal II 2025 tercatat sebesar US$ 40 juta dari sebelumnya US$ 51,7 juta. Untuk sepanjang semester I 2025, EBITDA perseroan turun menjadi US$ 91,7 juta dari US$ 124,85 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kendati demikian, perseroan mencatat penyusutan beban pokok pendapatan pada semester I 2025 menjadi US$ 396,58 juta dari sebelumnya US$ 417,16 juta. Produksi nikel matte perseroan juga menunjukkan pertumbuhan sebesar 9 persen pada kuartal II 2025 menjadi 18.557 metrik ton dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 17.027 metrik ton. Secara kumulatif pada semester I 2025, produksi tumbuh 2 persen menjadi 35.584 metrik ton, meskipun penjualan nikel matte turun menjadi 35.119 metrik ton dari 35.680 metrik ton pada semester I 2024 seiring penurunan harga rata-rata komoditas menjadi US$ 12.014 per ton.
Pada kuartal II 2025, pengiriman nikel matte perseroan meningkat menjadi 18.023 ton dari 17.096 ton pada kuartal I 2025. Harga realisasi rata-rata nikel matte pada kuartal II 2025 mencapai US$ 12.091 per ton, sedikit naik dari US$ 11.932 pada kuartal sebelumnya, yang mendorong pendapatan kuartal II 2025 naik 7 persen menjadi US$ 220,2 juta. Sebagai langkah taktis, perseroan mempercepat jadwal pemeliharaan terencana sekitar 20 hari mulai paruh kedua tahun 2025. Selain itu, perseroan telah memperoleh persetujuan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) untuk sekitar 2,2 juta ton bijih saprolit dari blok Bahodopi. Namun, untuk tahun 2026, PT Vale Indonesia Tbk menghadapi tantangan berupa pemotongan kuota produksi bijih nikel hingga 68 persen untuk proyek di Blok Pomalaa, dari usulan awal 18,06 juta ton menjadi hanya sekitar 5,8 juta ton yang disetujui.
Bursa Efek Indonesia Kembali Tunda Penerapan Transaksi Short Selling

Di pasar modal, pergerakan saham INCO menunjukkan volatilitas sepanjang tahun berjalan. Hingga penutupan Sesi I perdagangan tanggal 31 Juli 2025, saham INCO melemah 2,76 persen secara year-to-date, dengan catatan penjualan bersih (net sell) oleh investor asing sebesar Rp 289,93 miliar di seluruh pasar sepanjang tahun 2025. Meski begitu, dalam kurun waktu sebulan sebelum tanggal tersebut, saham INCO tercatat menguat secara kumulatif sebesar 2,92 persen. Menanggapi kondisi ini, Mirae Asset Sekuritas Indonesia memberikan rekomendasi Accumulative Buy untuk saham INCO dengan target harga Rp 4.190 per lembar saham.






