Kecemasan di kalangan orang tua mengenai tumbuh kembang anak remaja mereka kini semakin sering mengemuka. Dalam berbagai kesempatan, baik melalui obrolan santai sehari-hari, diskusi di grup keluarga, hingga curahan hati di media sosial, banyak orang tua yang mengungkapkan kegelisahan serupa. Mereka merasa khawatir dan takut jika anak remaja mereka terjerumus ke dalam LGBT. Rasa cemas ini kerap kali membayangi pikiran para orang tua yang sedang mendampingi masa transisi anak-anak mereka menuju kedewasaan.
Namun, kekhawatiran yang berlebihan dan tidak diperiksa secara mendalam sering kali memicu reaksi yang kontraproduktif. Rasa takut tersebut kerap berubah menjadi kecurigaan yang berlebihan atau bahkan tuduhan terhadap hal-hal yang sebenarnya biasa saja. Gaya berpakaian, hubungan pertemanan yang dekat, atau minat yang berbeda dari standar gender tertentu sering kali disalahartikan. Ketika kecurigaan semacam ini dibiarkan tumbuh tanpa adanya dasar yang jelas, tindakan tersebut tidak memberikan perlindungan bagi anak, melainkan justru menciptakan jarak antara orang tua dan anak.








