Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi menetapkan status Awas kekeringan meteorologis untuk tujuh dari sepuluh kabupaten dan kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Kondisi kemarau ekstrem yang melanda wilayah tersebut dilaporkan kian memburuk akibat pengaruh fenomena El Nino yang terus menguat. Indeks intensitas fenomena pemanasan suhu muka laut ini tercatat telah mencapai angka +2,26 derajat Celsius, yang menandakan tingkat keparahan tinggi pada musim kemarau kali ini.
Berdasarkan data yang dihimpun, dampak kekeringan terparah dirasakan di 17 kecamatan yang tersebar di tujuh kabupaten dan kota yang masuk dalam status Awas tersebut. Salah satu wilayah yang mengalami situasi paling kritis adalah Kabupaten Bima. Di daerah ini, Pos Hujan Belo dan Pos Hujan Bolo mencatatkan rekor tidak adanya hujan selama 74 hari berturut-turut. Akibat tidak adanya curah hujan selama lebih dari dua bulan, wilayah Belo dan Bolo kini dikategorikan berada dalam kondisi kekeringan ekstrem.
Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Suci Agustiarini, menjelaskan bahwa akumulasi curah hujan di sebagian besar wilayah NTB pada akhir Juli 2026 berada dalam kategori yang sangat rendah. Curah hujan rata-rata hanya berkisar antara 0 hingga 10 milimeter per dasarian. Dari seluruh wilayah pemantauan, curah hujan tertinggi pada akhir Juli lalu hanya tercatat di Pos Hujan Lenangguar yang terletak di Kabupaten Sumbawa, dengan besaran 19 milimeter per dasarian.
Otorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi Sorotan

Kondisi kering ini diproyeksikan masih akan berlangsung cukup lama. BMKG memperkirakan bahwa peluang terjadinya hujan pada dasarian pertama bulan Agustus 2026, yakni dari tanggal 1 hingga 10 Agustus, sangatlah kecil. Probabilitas kemunculan hujan di seluruh cakupan wilayah NTB diperkirakan berada di bawah angka 10 persen. Puncak musim kemarau di provinsi ini sendiri diprediksi akan terjadi sepanjang bulan Agustus 2026, sehingga kewaspadaan masyarakat perlu terus ditingkatkan.
Selain curah hujan yang minim, BMKG juga mengeluarkan peringatan terkait potensi angin kencang yang dapat mencapai kecepatan hingga 20 knot di wilayah NTB. Angin kencang ini dipicu oleh penguatan Monsun Australia yang saat ini aktif. BMKG juga memberikan klarifikasi mengenai kemungkinan adanya hujan ringan yang sesekali terjadi. BMKG menegaskan bahwa turunnya hujan ringan di wilayah NTB akhir-akhir ini bukanlah pertanda masuknya masa peralihan musim, melainkan akibat dari adanya anomali suhu muka laut.
Ketentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKN

Melihat perkembangan iklim global, penguatan El Nino diperkirakan masih akan bertahan dalam beberapa bulan ke depan. BMKG memproyeksikan fenomena El Nino ini akan terus berlangsung dengan intensitas yang kuat hingga awal tahun 2027. Di sisi lain, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) atau Dipol Samudra Hindia saat ini terpantau masih berada pada fase netral. Kendati demikian, IOD diproyeksikan akan mulai bergeser menuju fase positif pada periode September hingga Desember 2026, yang berpotensi semakin menekan curah hujan di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk NTB.






