Ancaman perubahan iklim ekstrem kembali membayangi sektor pertanian global, termasuk Indonesia. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature, terdapat proyeksi bahwa fenomena iklim El Nino pada tahun 2026 berpotensi menjadi salah satu yang paling kuat dalam kurun waktu sekitar 150 tahun terakhir. Proyeksi ini memicu kekhawatiran global mengenai dampaknya terhadap stabilitas pasokan pangan dunia, terutama di wilayah-wilayah yang secara geografis rentan terhadap perubahan pola cuaca ekstrem.
Menurut pandangan Anatoly Tikhonov, Direktur Center for International Agribusiness and Food Security di Presidential Academy (RANEPA) Rusia, dampak dari proyeksi El Nino ini tidak akan merata di seluruh dunia. Tikhonov mengidentifikasi bahwa kawasan Asia-Pasifik, Amerika Latin, dan Australia merupakan wilayah-wilayah yang paling rentan apabila proyeksi El Nino ekstrem tersebut benar-benar berkembang. Meskipun ancaman ini cukup serius, data hingga pertengahan tahun 2026 menunjukkan bahwa FAO Food Price Index belum mencatatkan perubahan harga pangan yang secara langsung mencerminkan dampak dari proyeksi El Nino tersebut. Namun, situasi ini tetap menuntut kewaspadaan tinggi dari negara-negara di kawasan yang terancam.








