Banyak warga di Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini memilih bertahan di tenda-tenda pengungsian untuk menghindari risiko tertimpa runtuhan bangunan akibat gempa susulan. Kondisi ini dipicu oleh rasa khawatir terhadap aktivitas seismik yang masih terus terjadi pascagempa besar beberapa waktu lalu.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Suharyanto memaparkan situasi tersebut dalam rapat koordinasi yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Nagekeo, NTT, Rabu (26/8/2026). Dalam laporannya, Suharyanto mengungkapkan bahwa banyak warga NTT mengungsi karena takut akan gempa susulan yang frekuensinya dinilai masih cukup tinggi, bukan semata-mata karena dampak langsung dari kerusakan gempa pertama.
Otorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi Sorotan

Berdasarkan data pemutakhiran hingga satu hari sebelum rapat koordinasi tersebut, tercatat sudah terjadi 7.259 kali gempa sejak gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus lalu. Kendati demikian, tidak ada satu pun gempa susulan yang kekuatannya melampaui gempa utama magnitudo 7,7 tersebut, dengan gempa susulan terbesar yang terekam berada pada magnitudo 6,2.
Secara umum, frekuensi gempa susulan harian dilaporkan mulai menyusut. Jumlah gempa susulan yang dirasakan langsung oleh masyarakat kini berkurang dari sebelumnya 142 kali menjadi 43 kali.
Ketentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKN

Selain faktor guncangan fisik, kecemasan warga di pengungsian juga diperparah oleh beredarnya isu liar di media sosial yang mengeklaim akan adanya gempa susulan dengan kekuatan lebih besar serta potensi tsunami. BNPB menyatakan bahwa seluruh unsur terkait kini tengah bekerja sama secara gotong royong untuk meluruskan kabar bohong tersebut dan memberikan penjelasan yang benar kepada masyarakat terdampak.






