Kemarau ekstrem yang melanda wilayah Tangerang Selatan pada tahun 2026 mulai menunjukkan dampak nyata yang mengkhawatirkan bagi kehidupan warga sehari-hari. Di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, krisis air bersih kini bukan lagi sekadar ancaman musiman, melainkan kenyataan pahit yang harus dihadapi oleh ratusan keluarga. Perluasan dampak kekeringan ini memaksa otoritas setempat bergerak cepat untuk mencegah krisis kemanusiaan yang lebih dalam akibat menipisnya sumber air tanah di pemukiman warga.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang Selatan mencatat bahwa hingga pertengahan tahun ini, tepatnya per akhir Juli, sebanyak 162 Kepala Keluarga (KK) di kelurahan tersebut sangat bergantung pada pasokan air bantuan. Wilayah yang terdampak kini semakin meluas, mencakup delapan Rukun Tetangga (RT) yang tersebar di beberapa Rukun Warga (RW). Beberapa titik krusial yang dilaporkan mengalami kesulitan air bersih meliputi RT 02/01, RT 04/02, RT 01/02, RT 13/05, RT 03/01, RT 06/02, RT 12/05, hingga RT 05/02. Kondisi ini memperlihatkan bahwa dampak kemarau panjang kali ini tidak lagi terlokalisasi di satu atau dua sudut desa saja.
Ada 64 Hotspot Karhutla di Sumut, Paling Banyak di Karo

Menyikapi eskalasi situasi tersebut, Sekretaris BPBD Kota Tangerang Selatan, Essa Nugraha, menjelaskan bahwa pemerintah daerah terus berupaya menjaga ketersediaan air untuk konsumsi harian warga. Hingga hari Minggu (26/7), total bantuan air bersih yang telah disalurkan ke wilayah terdampak telah menyentuh angka 73.100 liter. Langkah tanggap darurat ini terus diperbarui seiring dengan bertambahnya jumlah wilayah yang melaporkan kekeringan ekstrem. Upaya distribusi ini diprioritaskan pada titik-titik pemukiman dengan tingkat kelangkaan paling parah agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
Untuk mengatasi kendala logistik di lapangan, BPBD Tangsel tidak bekerja sendirian. Sebuah kolaborasi lintas sektor dibentuk dengan melibatkan PDAM Tirta Traya Cisadane Serpong, Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC), serta pihak swasta seperti PT Sinar Mas Land BSD. Sinergi ini diwujudkan melalui pengerahan armada pengangkut air dengan total kapasitas sekali jalan mencapai 18.050 liter. Armada gabungan ini terdiri dari truk tangki Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Tangerang Selatan berkapasitas 4.000 liter, truk kemitraan BBWSCC bermuatan 8.000 liter, truk milik PT Sinar Mas Land BSD berkapasitas 5.000 liter, dan ditopang oleh kendaraan pikap pembawa toren dari PMI Tangerang Selatan berkapasitas 1.050 liter.
September Diprediksi Puncak Karhutla, OMC dan Water Bombing Dimaksimalkan

Perkembangan situasi di lapangan menunjukkan bahwa titik kekeringan di Kelurahan Keranggan terus merambat naik. Sebelumnya, krisis air bersih hanya terdeteksi di tiga lokasi utama, namun kini laporan terbaru menunjukkan wilayah terdampak telah meluas menjadi empat lokasi strategis. Menanggapi perluasan ini, BPBD Tangsel memfokuskan penyaluran air bersih susulan pada empat titik krusial di Kelurahan Keranggan, yaitu RT 02/RW 01, RT 04/RW 02, RT 11/RW 04, dan RT 13/RW 05. Penanganan terintegrasi ini diharapkan dapat menjaga stabilitas pasokan air bersih di tengah ketidakpastian cuaca ekstrem yang masih membayangi kawasan Tangerang Selatan.






