Ketegangan di Selat Hormuz kembali memuncak setelah sebuah kapal tanker yang terafiliasi dengan Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC) menjadi sasaran serangan rudal pada Sabtu dini hari, 8 Agustus 2026. Insiden penyerangan saat kapal melintasi jalur perairan vital tersebut segera memicu reaksi keras dari pemerintah Uni Emirat Arab. Melalui unggahan di platform media sosial X, pihak Uni Emirat Arab mengecam keras tindakan penargetan kapal tanker tersebut. Meskipun demikian, pihak ADNOC memberikan konfirmasi bahwa insiden rudal ini tidak menimbulkan korban luka dan situasi di lapangan telah berhasil dikendalikan sepenuhnya.
Serangan rudal ini tidak terlepas dari latar belakang konflik yang lebih luas, terutama sejak perang antara Amerika Serikat dan Iran pecah pada 28 Februari lalu. Pihak militer Iran secara tegas menyatakan bahwa Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali apabila Amerika Serikat bersedia menerima seluruh syarat yang mereka ajukan. Selain itu, parlemen Iran saat ini tengah meninjau rancangan rencana pembatasan lalu lintas kapal di selat tersebut yang diterbitkan oleh media pemerintah. Berdasarkan laporan dari kantor berita pemerintah Fars, draf aturan tersebut memuat larangan melintas bagi kapal-kapal milik Amerika Serikat dan Israel. Sementara itu, negara-negara lain yang dinilai telah merugikan Iran juga tidak akan diizinkan melintasi kawasan tersebut sebelum mereka membayar kompensasi yang diwajibkan.








