Ketegangan di Selat Hormuz kembali memuncak setelah sebuah kapal tanker yang terafiliasi dengan Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC) menjadi sasaran serangan rudal pada Sabtu dini hari, 8 Agustus 2026. Insiden penyerangan saat kapal melintasi jalur perairan vital tersebut segera memicu reaksi keras dari pemerintah Uni Emirat Arab. Melalui unggahan di platform media sosial X, pihak Uni Emirat Arab mengecam keras tindakan penargetan kapal tanker tersebut. Meskipun demikian, pihak ADNOC memberikan konfirmasi bahwa insiden rudal ini tidak menimbulkan korban luka dan situasi di lapangan telah berhasil dikendalikan sepenuhnya.
Serangan rudal ini tidak terlepas dari latar belakang konflik yang lebih luas, terutama sejak perang antara Amerika Serikat dan Iran pecah pada 28 Februari lalu. Pihak militer Iran secara tegas menyatakan bahwa Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali apabila Amerika Serikat bersedia menerima seluruh syarat yang mereka ajukan. Selain itu, parlemen Iran saat ini tengah meninjau rancangan rencana pembatasan lalu lintas kapal di selat tersebut yang diterbitkan oleh media pemerintah. Berdasarkan laporan dari kantor berita pemerintah Fars, draf aturan tersebut memuat larangan melintas bagi kapal-kapal milik Amerika Serikat dan Israel. Sementara itu, negara-negara lain yang dinilai telah merugikan Iran juga tidak akan diizinkan melintasi kawasan tersebut sebelum mereka membayar kompensasi yang diwajibkan.
LRT Jakarta Rute Kelapa Gading-Manggarai Siap Diresmikan, Tarif Flat Rp5.000 Hingga Oktober

Langkah sepihak Teheran dalam membatasi akses Selat Hormuz terbukti telah memicu guncangan hebat pada pasokan energi global. Dampak dari blokade ini langsung terasa melalui kenaikan harga bahan bakar di berbagai belahan dunia, memperburuk laju inflasi global, serta memicu kekhawatiran serius mengenai cadangan minyak internasional. Di tingkat operasional, lalu lintas kapal yang melewati Selat Hormuz dilaporkan merosot tajam hingga 33 persen pada hari Jumat jika dibandingkan dengan hari sebelumnya. Perusahaan intelijen perdagangan Kpler mencatat bahwa sebagian besar kapal yang tetap melakukan pelayaran pada hari Jumat terpaksa memilih rute yang melintasi wilayah perairan Iran.
Di tengah situasi yang memanas, upaya untuk meredakan ketegangan terus diupayakan meski diwarnai perbedaan pandangan yang tajam. Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, sempat menyampaikan kepada CNBC bahwa kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dengan jaminan kebebasan navigasi dapat dicapai paling cepat pada hari Rabu. Harapan akan tercapainya kesepakatan ini juga sebelumnya telah diisyaratkan oleh Presiden Donald Trump serta Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Sentimen positif ini sempat mendorong kenaikan harga minyak dunia pada hari Jumat karena para pelaku pasar mengantisipasi adanya kesepakatan damai untuk memulihkan jalur pelayaran tersebut.
Kapal Tenggelam Buat Warga Ngamuk, Batu Melayang-Benda Dibakar

Namun, optimisme dari pihak Washington tersebut segera diredam oleh pernyataan tegas dari Teheran. Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Sardar Mohbi, menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz sepenuhnya bergantung pada mekanisme dan persyaratan khusus yang ditetapkan oleh Republik Islam Iran. Menurut Mohbi, keputusan tersebut sama sekali tidak memiliki kaitan dengan negosiasi yang sedang berlangsung antara pihak Iran dan Oman. Di sisi lain, laporan media menyebutkan bahwa Iran dan Oman saat ini sedang menjajaki kesepakatan untuk menetapkan rute transit baru, di mana kapal yang masuk akan menggunakan perairan Iran, sedangkan kapal yang keluar akan diarahkan melewati perairan Oman. Perkembangan ini menunjukkan bahwa masa depan jalur pasokan minyak global ini masih diselimuti ketidakpastian yang tinggi.






