Bayang-bayang riuh penentuan lokasi dan jadwal kini berganti menjadi ketenangan di ruang administrasi. Sehelai surat keputusan bertanda empat nama puncak menjadi penanda paling nyata bahwa Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama kian dekat. Lebih dari sembilan puluh persen calon peserta telah menggenggam dokumen itu, menegaskan bahwa hajat besar ormas Islam terbesar ini tinggal menunggu hari.
Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf memerinci, sekitar 3.300 peserta dari jajaran pengurus wilayah dan cabang akan memadati Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, akhir Agustus nanti. Setiap lembar surat keputusan keikutsertaan mereka dibubuhi tanda tangan empat figur kunci: Rais Aam Miftachul Akhyar, Katib Aam Ahmad Said Asrori, Ketua Umum Yahya Cholil Staquf, serta dirinya sendiri. Kerangka legal-formal ini bukan sekadar rutinitas, melainkan simbol kolektivitas di tubuh jam’iyah yang menolak ruang tafsir sepihak.
Label 'Londo Ireng' dan Upaya Meredam Suara Kritis

Di Jakarta, Jumat (24/7/2026), Gus Ipul—begitu panggilannya—menepis kabar simpang siur yang menyebut banyak calon peserta belum menerima surat sakti tersebut. Ia menyandingkan fakta dan narasi liar dengan tenang: “Sampai sekarang yang sudah dalam proses sudah lebih dari 90 persen yang sudah ditandatangani oleh empat pihak. Jadi enggak ada masalah.” Ia tak membantah bahwa masih ada berkas yang tertahan, namun penyebabnya justru datang dari bawah, yakni dokumen persyaratan dari pengurus cabang atau wilayah yang belum lengkap. Alih-alih menyalahkan, panitia justru akan turun mendampingi agar segala lubang administrasi tertutup rapat sebelum forum tertinggi itu dibuka.
Dapur teknis penyelenggaraan pun bergerak dengan ritme serupa. Akomodasi dan ruang-ruang sidang telah dihitung ulang, dicocokkan dengan proyeksi jumlah peserta dan kebutuhan komisi-komisi. “Insyaallah semuanya sudah siap, sarana prasarana sudah mencukupi, tinggal disesuaikan kebutuhannya,” ujar Gus Ipul memberikan napas lega. Kalimat itu menyiratkan bahwa setelah pergulatan penentuan lokasi yang sempat menyedot energi dua bulan terakhir, panitia kini bekerja di atas fondasi yang pasti. Tambakberas bukan sekadar tempat, ia adalah titik temu sejarah dan efisiensi.
Dapur Mandiri di Manggarai Barat, Wajah Baru Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan

Muktamar lima tahunan ini bukan sekadar ajang seremonial. Ia adalah ruang evaluasi kinerja, laboratorium arah perjuangan, sekaligus panggung pemilihan nahkoda baru—Rais Aam dan Ketua Umum PBNU—yang akan memimpin bahtera NU menghadapi tantangan zaman. Di balik angka 90 persen surat keputusan dan daftar akomodasi, ada denyut kedaulatan nahdliyin dari cabang hingga pusat yang kembali akan memancar dari serambi pesantren. Setelah sempat berselimut kabut dinamika internal, pagi Muktamar kini mulai terang: segala sesuatu telah hampir rampung, tinggal memastikan para musyawirin tiba di Jombang dengan membawa suara, bukan lagi pertanyaan tentang nasib administrasi mereka.






