apriniageosat.co.id
HomeNasionalKesehatanHukumMegapolitanSosialBudayaEkonomiPeristiwaKulinerOlahragaMusikHiburanSainsPolitikPendidikanKriminalBisnisLingkunganHumanioraPariwisataMetropolitanTeknologiGaya HidupReligiOtomotifPropertiInternasionalTransportasiBencanaWisataPemerintahanKeperdataanEnergiManajemenSejarahInfrastrukturKeagamaanMetroEdukasiMitigasi BencanaPopuler
Home/Olahraga

Ironi Piala AFF dan Upaya Indonesia Lepas dari Bayang-Bayang Spesialis Runner-Up

Usat NgajiPublished 27 Jul 2026 - 13.25 · 0 Reads
Bagikan WhatsAppX
Ironi Piala AFF dan Upaya Indonesia Lepas dari Bayang-Bayang Spesialis Runner-Up
Foto/Ilustrasi: tirto.id.
A-A+

Turnamen sepak bola terbesar di Asia Tenggara, ASEAN Championship—atau yang secara historis lebih akrab di telinga kita sebagai Piala AFF—kembali bergulir pada 24 Juli hingga 26 Agustus 2026. Kompetisi ini kerap memicu hubungan benci tapi rindu bagi para pencinta sepak bola di tanah air. Di satu sisi, turnamen ini kerap kali dipandang sebelah mata dan mendapat label bernada miring sebagai "Piala Ciki". Namun di sisi lain, kompetisi ini justru menjadi panggung drama yang paling menguras emosi publik sepak bola nasional, terutama karena bayang-bayang status "raja runner-up" yang masih melekat erat pada Tim Nasional Indonesia.

Istilah "Piala Ciki" sendiri bukanlah nama resmi, melainkan sebuah metafora sarkastis yang lahir dari dinamika media sosial dan budaya suporter. Label ini merujuk pada level kompetisi yang dianggap kurang bergengsi jika dibandingkan dengan panggung besar seperti Piala Asia atau Kualifikasi Piala Dunia. Faktor historis juga memperkuat stigma ini; pada masa lalu, agenda Piala AFF sering kali digelar di luar kalender resmi FIFA. Akibatnya, klub-klub luar negeri tidak memiliki kewajiban untuk melepas para pemain terbaik mereka. Turnamen ini pun kerap menyuguhkan laga dengan skuad lapis kedua, yang pada akhirnya memicu persepsi bahwa kualitas kompetisi ini tidak lebih dari sekadar turnamen hiburan tingkat regional.

apriniageosat.co.id

Copyright 2026 apriniageosat.co.id - All Rights Reserved.

Kategori

NasionalKesehatanHukumMegapolitanSosialBudayaEkonomiPeristiwaKulinerOlahragaMusikHiburanSainsPolitikPendidikanKriminalBisnisLingkunganHumanioraPariwisataMetropolitanTeknologiGaya HidupReligiOtomotifPropertiInternasional
Also Read

Polisi Amankan Tiga Orang Setelah Bentrokan Maut di Menteng

Polisi Amankan Tiga Orang Setelah Bentrokan Maut di Menteng

Meskipun kerap dicibir, mengabaikan signifikansi turnamen yang kini menginjak usia tiga dekade sejak pertama kali digelar pada 1996 ini tentu tidak sepenuhnya adil. ASEAN Championship tetap menyajikan rivalitas panas yang sarat gengsi antara Indonesia, Thailand, Malaysia, Vietnam, hingga Singapura. Terlebih lagi, sejak edisi 2018, format kompetisi diubah dengan menerapkan sistem kandang dan tandang sejak fase grup. Format ini memaksa sepuluh negara peserta untuk melakukan perjalanan lintas negara selama lebih dari satu bulan, menciptakan tantangan fisik dan mental tersendiri yang membuat turnamen ini sebenarnya jauh dari kata mudah untuk dimenangi.

Bagi publik Indonesia, turnamen ini adalah sebuah ironi besar. Tim Garuda memegang rekor yang sulit ditandingi oleh negara mana pun di kawasan ini, namun bukan dalam hal koleksi trofi juara, melainkan catatan sebagai kolektor medali perak terbanyak. Julukan "raja runner-up" melekat kuat setelah Indonesia tercatat enam kali melaju ke final—yakni pada tahun 2000, 2002, 2004, 2010, 2016, dan 2020—namun selalu gagal di partai puncak hingga edisi 2024. Kegagalan berulang di laga final ini memicu lahirnya mitos "kutukan final" di kalangan penggemar, meski secara objektif hal tersebut mencerminkan konsistensi sekaligus ketidakberuntungan Indonesia di laga krusial.

Also Read

Wabah Ebola Varian Langka di Kongo Menyebar Cepat di Tengah Konflik dan Aksi Mogok Kerja

Wabah Ebola Varian Langka di Kongo Menyebar Cepat di Tengah Konflik dan Aksi Mogok Kerja

Kontras prestasi Indonesia semakin terlihat nyata jika dibandingkan dengan para rival di Asia Tenggara. Thailand, misalnya, mengoleksi tujuh gelar juara dari sebelas kali penampilan di final. Malaysia mengantongi satu trofi, sedangkan Vietnam telah tiga kali menjadi kampiun. Bahkan Singapura mencatatkan efisiensi luar biasa dengan menyapu bersih empat laga final mereka menjadi empat gelar juara. Sementara Indonesia, dari seluruh partisipasinya hingga 2024, mencatatkan enam kali runner-up, dua kali semifinalis, satu kali peringkat keempat, dan lima kali gugur di fase grup. Pada akhirnya, sebutan "Piala Ciki" hanyalah bumbu penyedap di luar lapangan. Bagi Timnas Indonesia, memenangi turnamen ini tetap menjadi misi penting untuk menuntaskan dahaga gelar dan menghapus predikat spesialis tempat kedua.

Follow apriniageosat.co.id

Add to preferred sources on Google

Topik Terkait

Timnas Indonesiasepak bolaPiala AFFPiala CikiASEAN Championship

Berita Terbaru Lainnya

Indonesia Bidik Potensi Raksasa Wisata Kebugaran GlobalKesiapan Industri Geospasial Lokal Diuji dalam Proyek Integrasi Pertanahan RaksasaDestry Damayanti Resmi Pimpin Bank Indonesia Pasca Mundurnya Perry WarjiyoPenyelamatan Ribuan Penyu di Pesisir Malang Selatan Menjadi Harapan Baru Ekosistem LautPolisi Irlandia Temukan Bom Aktif di Dekat Perbatasan Irlandia UtaraTeknologi Pirolisis BRIN Ubah Residu Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar PetasolSejarah Kumpul Kebo dan Gaya Hidup Pejabat Kolonial di JawaKementan Sebut Butuh Tiga Dekade untuk Hasilkan Tembakau Rendah Nikotin

Paling Banyak Dibaca

Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASN

Nasional

Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASN

25 Jul 2026

Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus Transjakarta

Megapolitan

Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus Transjakarta

25 Jul 2026

Gelombang Perhelatan Dunia Siap Guyur Indonesia hingga Awal 2027

Pariwisata

Gelombang Perhelatan Dunia Siap Guyur Indonesia hingga Awal 2027

26 Jul 2026

Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu Timur

Hukum

Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu Timur

27 Jul 2026

Transmart Pangkas Harga Sepeda Listrik hingga Jutaan Rupiah Hanya Hari Ini

Ekonomi

Transmart Pangkas Harga Sepeda Listrik hingga Jutaan Rupiah Hanya Hari Ini

27 Jul 2026

Luka Psikis di Balik Autoimun yang Acap Terabaikan

Kesehatan

Luka Psikis di Balik Autoimun yang Acap Terabaikan

27 Jul 2026

🔥

Popular

  1. 1Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASNNasional · 25 Jul 2026
  2. 2Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus TransjakartaMegapolitan · 25 Jul 2026
  3. 3Gelombang Perhelatan Dunia Siap Guyur Indonesia hingga Awal 2027Pariwisata · 26 Jul 2026
  4. 4Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu TimurHukum · 27 Jul 2026
  5. 5Transmart Pangkas Harga Sepeda Listrik hingga Jutaan Rupiah Hanya Hari IniEkonomi · 27 Jul 2026
Transportasi
Bencana
Wisata
Pemerintahan
Keperdataan
Energi
Manajemen
Sejarah
Infrastruktur
Keagamaan
Metro
Edukasi
Mitigasi Bencana

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap