Turnamen sepak bola terbesar di Asia Tenggara, ASEAN Championship—atau yang secara historis lebih akrab di telinga kita sebagai Piala AFF—kembali bergulir pada 24 Juli hingga 26 Agustus 2026. Kompetisi ini kerap memicu hubungan benci tapi rindu bagi para pencinta sepak bola di tanah air. Di satu sisi, turnamen ini kerap kali dipandang sebelah mata dan mendapat label bernada miring sebagai "Piala Ciki". Namun di sisi lain, kompetisi ini justru menjadi panggung drama yang paling menguras emosi publik sepak bola nasional, terutama karena bayang-bayang status "raja runner-up" yang masih melekat erat pada Tim Nasional Indonesia.
Istilah "Piala Ciki" sendiri bukanlah nama resmi, melainkan sebuah metafora sarkastis yang lahir dari dinamika media sosial dan budaya suporter. Label ini merujuk pada level kompetisi yang dianggap kurang bergengsi jika dibandingkan dengan panggung besar seperti Piala Asia atau Kualifikasi Piala Dunia. Faktor historis juga memperkuat stigma ini; pada masa lalu, agenda Piala AFF sering kali digelar di luar kalender resmi FIFA. Akibatnya, klub-klub luar negeri tidak memiliki kewajiban untuk melepas para pemain terbaik mereka. Turnamen ini pun kerap menyuguhkan laga dengan skuad lapis kedua, yang pada akhirnya memicu persepsi bahwa kualitas kompetisi ini tidak lebih dari sekadar turnamen hiburan tingkat regional.








