Iran dilaporkan telah memberikan peringatan keras kepada negara-negara di kawasan Teluk terkait situasi keamanan yang memanas. Teheran memperingatkan bahwa setiap serangan baru yang diluncurkan oleh Amerika Serikat (AS) ke wilayahnya akan memicu aksi pembalasan terhadap infrastruktur energi penting di seluruh kawasan tersebut. Langkah ini diambil dan disampaikan melalui saluran diplomatik setelah adanya ancaman dari Presiden AS Donald Trump pada tanggal 28 Juli lalu. Saat itu, Donald Trump mengancam akan menyerang jaringan dan infrastruktur energi milik Iran, yang kemudian memicu respons defensif dari pihak Teheran.
Menurut penjelasan dari seorang pejabat Iran, serangan balasan yang akan dilancarkan jika AS menyerang tidak akan main-main. Pihak Iran menegaskan bahwa respons militer mereka akan menyasar berbagai fasilitas vital di Teluk, termasuk fasilitas energi, kilang minyak, jaringan listrik, infrastruktur air, jaringan transportasi, hingga ladang-ladang minyak. Untuk memperkuat peringatan tersebut, pejabat Iran tersebut juga mengingatkan kembali memori tentang insiden serangan pesawat nirawak dan rudal pada September 2019 yang menghantam fasilitas Abqaiq dan Khurais milik perusahaan minyak Saudi Aramco. Serangan pada tahun 2019 tersebut terbukti sempat melumpuhkan lebih dari separuh produksi minyak mentah milik kerajaan Arab Saudi.
Menyusul ketegangan ini, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, bergerak cepat melakukan komunikasi diplomatik secara intensif. Araqchi dilaporkan telah berbicara langsung dengan rekan-rekannya di Arab Saudi, Turki, dan Qatar, serta berkomunikasi dengan kepala staf angkatan darat Pakistan. Dalam rangkaian pembicaraan tersebut, Abbas Araqchi mendesak negara-negara sekutu Washington di kawasan Teluk untuk menggunakan pengaruh mereka guna mencegah Donald Trump meluncurkan serangan baru terhadap Iran. Selain itu, kepemimpinan ulama Iran juga telah berulang kali menuntut penutupan seluruh pangkalan militer AS yang berada di kawasan Teluk.
LRT Jakarta Rute Kelapa Gading-Manggarai Siap Diresmikan, Tarif Flat Rp5.000 Hingga Oktober

Tidak hanya mendesak pencegahan serangan, Teheran juga meminta negara-negara Arab di Teluk untuk mengambil langkah nyata lainnya. Iran mendesak negara-negara tersebut untuk berhenti berbagi informasi intelijen dengan Washington, karena mereka meyakini bahwa berbagi data intelijen tersebut selama ini telah memfasilitasi berbagai serangan yang diarahkan terhadap wilayah mereka. Di sisi lain, negara-negara Teluk sendiri juga berupaya aktif untuk meredakan ketegangan. Qatar dan Oman, misalnya, telah mendesak Washington untuk terus melanjutkan pembicaraan dengan Teheran demi menghindari pecahnya konflik baru yang dapat merugikan seluruh kawasan.
Upaya diplomasi tingkat tinggi juga ditunjukkan oleh Arab Saudi. Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), melakukan komunikasi langsung dengan Donald Trump. Dalam pembicaraan tersebut, MBS mendesak sang Presiden AS untuk menunda tindakan militer dan mendorongnya agar kembali ke meja perundingan guna mengamankan gencatan senjata serta mencari penyelesaian secara diplomatik. Merespons berbagai desakan ini, Donald Trump akhirnya menyatakan pada tanggal 2 Agustus bahwa dirinya setuju untuk membatalkan rencana serangan ke Iran. Kendati demikian, Trump memberikan syarat bahwa pembatalan tersebut harus tunduk pada kemampuan untuk segera mencapai kesepakatan diplomatik dengan cepat.
Kapal Tenggelam Buat Warga Ngamuk, Batu Melayang-Benda Dibakar

Sementara itu, Arab Saudi sendiri juga mempertegas sikap pertahanan mereka di tengah situasi yang tidak menentu ini. Pihak kerajaan memperingatkan bahwa setiap serangan yang diarahkan ke wilayah teritorialnya akan dibalas dengan respons militer yang setimpal. Pandangan ini didukung oleh pernyataan dari Ali Shihabi, seorang analis Arab Saudi yang dikenal dekat dengan pihak Istana. Ali Shihabi menyatakan bahwa pihak kerajaan meyakini eskalasi konflik yang lebih lanjut tidak mungkin dapat mencapai hasil-hasil yang diinginkan oleh pihak-pihak yang bertikai, sehingga pendekatan diplomatik tetap menjadi prioritas utama.






