Pernahkah Anda membayangkan bagaimana selembar Kartu Tanda Penduduk atau deretan angka Nomor Induk Kependudukan (NIK) dapat menentukan kelancaran distribusi bantuan sosial hingga pelayanan kesehatan yang Anda terima? Pertanyaan ini menjadi krusial ketika pemerintah daerah berupaya merumuskan kebijakan yang tepat sasaran. Jawabannya terletak pada kekuatan pengelolaan data kependudukan, yang kini menjadi motor penggerak utama transformasi birokrasi di berbagai wilayah Indonesia.
Persoalan integrasi data ini dibahas secara mendalam dalam Rapat Koordinasi Nasional Dukcapil 2026 yang berlangsung di Bidakara, Jakarta, pada Senin, 3 Agustus 2026. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang hadir dalam pertemuan tersebut menegaskan bahwa NIK dan Identitas Kependudukan Digital (IKD) merupakan kunci utama dari seluruh layanan publik. Di Kota Surabaya, pemanfaatan IKD telah dirintis sejak tahun 2021. Upaya ini membawa Surabaya menembus posisi 10 besar nasional dalam Dukcapil Prima Award—sebuah penghargaan untuk daerah dengan kinerja administrasi kependudukan terbaik—dengan tingkat aktivasi IKD mencapai 36,50 persen.








