Gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB. Peristiwa ini memicu kepanikan luar biasa karena selain guncangannya yang kuat, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk wilayah NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Pusat gempa terdeteksi berada di koordinat 8.41 LS, 121.39 BT, tepatnya 30 kilometer timur laut Nagekeo dengan kedalaman mencapai 15 kilometer.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Sabtu (15/8) pukul 18.48 WIB, bencana ini menyebabkan puluhan korban jiwa. Korban meninggal dunia tercatat berada di Kabupaten Manggarai sebanyak 24 orang, Manggarai Timur 17 orang, Sikka 3 orang, serta masing-masing 1 orang di Ngada dan Ende. Selain merenggut nyawa, guncangan hebat ini juga menghancurkan tempat tinggal warga. Data sementara BNPB per pukul 17.00 WIB melaporkan sebanyak 157 unit rumah mengalami rusak berat, 41 rumah rusak sedang, dan 148 rumah rusak ringan.
Gempa M 6,4 Simalungun Sumut Terasa hingga Medan

Dari sudut pandang seismologi, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa gempa bumi ini dipicu oleh aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back-Arc Thrust. Kawasan sesar aktif ini memiliki potensi menghasilkan gempa dengan magnitudo maksimum berkisar antara 7,8 hingga 7,9. Catatan sejarah menunjukkan wilayah yang sama pernah dilanda gempa berkekuatan magnitudo 7,5 pada tahun 1992. Gempa kali ini pun sempat memicu tsunami kecil, dengan ketinggian air laut tertinggi terdeteksi di Kecamatan Maurole, Ende, setinggi 0,94 meter pada pukul 05.27 WIB. Di Selayar, air laut sempat naik hampir 1 meter dan masuk ke daratan hingga sejauh 40 meter sebelum akhirnya surut dengan cepat tanpa menimbulkan kerusakan rumah, meski beberapa kapal di area pelabuhan terseret arus hingga naik ke atas batu. BMKG kemudian mencabut peringatan dini tsunami pada pukul 07.31 WIB.
Dampak kerusakan juga meluas pada fasilitas pelayanan kesehatan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengonfirmasi bahwa banyak bangunan puskesmas yang mengalami kerusakan, sementara satu rumah sakit yang dilaporkan rusak berada di Maumere. Di Labuan Bajo, pasien RSUD Komodo yang terdiri dari bayi, anak-anak, dewasa, hingga pasien di ruang ICU dan HCU terpaksa dievakuasi ke halaman rumah sakit demi menghindari risiko runtuhnya bangunan akibat gempa susulan. Layanan poliklinik di RSUD Komodo ditutup sementara hingga Senin, 17 Agustus, yang juga bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 RI. Langkah evakuasi serupa ke area terbuka juga diterapkan bagi pasien di RSUD Ruteng dan RSUD TC Hillers Maumere.
Komisi I DPR Desak Pemerintah Segera Bentuk Otoritas Pelindungan Data Pribadi

Di sektor infrastruktur perhubungan, lima bandara melaporkan adanya kerusakan pada bagian gedung terminal, meskipun bagian landasan pacu tetap aman untuk operasional penerbangan. Kerusakan fasilitas laut juga terjadi di dua titik, yakni Pelabuhan Riung dan Pelabuhan Maumere. Selain itu, guncangan gempa memicu longsor yang menutup beberapa ruas jalan utama. Merespons kendala logistik ini, Kementerian Pekerjaan Umum segera mengerahkan personel serta alat berat untuk membersihkan material longsor dan membuka kembali jalur transportasi darat yang terganggu.






