Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8) pagi. Bencana alam ini langsung direspons cepat oleh pemerintah melalui Kementerian Sosial (Kemensos). Kemensos segera mengerahkan personel Taruna Siaga Bencana (Tagana) serta petugas ke wilayah yang terdampak untuk menyiapkan tempat pengungsian sementara. Selain pengerahan personel, Kemensos juga memobilisasi bantuan logistik dengan nilai total mencapai lebih dari Rp4,5 miliar guna membantu meringankan beban para korban yang terdampak gempa tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, gempa bumi tersebut terjadi pada pukul 05.58 WITA. Pusat gempa atau episenter dilaporkan berada di laut, berjarak sekitar 30 sampai 38 kilometer di arah timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. Gempa dengan kedalaman 15 kilometer ini tidak hanya mengguncang Nagekeo, tetapi juga dirasakan di sejumlah wilayah lain di NTT hingga beberapa daerah di luar provinsi tersebut. Menyusul guncangan hebat ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami pada pukul 05.02 WIB (06.02 WITA). Peringatan dini tsunami tersebut kemudian resmi diakhiri oleh BMKG pada pukul 07.41 WIB (08.41 WITA).
Tantangan Pengelolaan Sampah dan Pemenuhan Hak Lingkungan Sehat di Indonesia

Hingga Sabtu siang, data sementara mencatat dampak gempa telah memengaruhi sekitar 2.000 jiwa. Dilaporkan pula terdapat korban jiwa, dengan rincian satu orang meninggal dunia dan empat orang mengalami luka-luka. Untuk wilayah terdampak gempa sementara ini meliputi Kabupaten Nagekeo, Sikka, Manggarai, Manggarai Barat, dan Ende. Sebagai langkah perlindungan, tempat pengungsian sementara pun disiapkan di beberapa titik. Lokasi pengungsian warga tersebut di antaranya berada di Lapangan Umum Mbay, serta beberapa lokasi aman di wilayah Maumere, Borong, dan Ruteng.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menyampaikan pada Sabtu (15/8/2026) bahwa seluruh unsur penanganan bencana telah bergerak dan saling berkoordinasi secara aktif di lapangan. Instansi yang terlibat di antaranya adalah BNPB, TNI, Polri, Basarnas, Kemensos, pemerintah daerah, serta para relawan dari berbagai unsur. Mereka bahu-membahu melakukan proses evakuasi warga dan menyalurkan dukungan logistik yang mendesak. Sebagai langkah awal, Kemensos menyalurkan bantuan logistik senilai Rp1,015 miliar yang digerakkan dari Sentra Efata Kupang menuju Kabupaten Nagekeo. Selain itu, bantuan senilai sekitar Rp541,6 juta juga didistribusikan dari Gudang Dinas Sosial Provinsi NTT untuk mendukung penanganan korban di Nagekeo, Sikka/Maumere, Ende, dan Manggarai Timur.
Bareskrim Ungkap ABK Penyelundup 1,3 Ton Ketamin Dijanjikan Bonus Rp 178 Juta

Untuk memperkuat ketersediaan pasokan logistik di lapangan, dukungan tambahan dikirimkan dari Gudang Pusat Bekasi. Mobilisasi logistik dari Bekasi ini dibagi menjadi dua tujuan utama, yaitu ke Dinas Sosial Provinsi NTT senilai Rp1,482 miliar dan ke Sentra Efata Kupang senilai Rp1,478 miliar. Dengan demikian, total keseluruhan nilai dukungan logistik yang dimobilisasi oleh Kemensos untuk bencana ini mencapai sekitar Rp4,518 miliar. Di samping penyaluran bantuan, pemulihan infrastruktur terus berjalan. Aliran listrik di sebagian wilayah Nagekeo, Sikka, dan Manggarai yang sempat mengalami gangguan kini dilaporkan mulai menyala kembali secara bertahap. Selain itu, akses jalan yang sempat terhambat oleh reruntuhan puing-puing bangunan kini telah ditangani sehingga dapat kembali dilalui oleh kendaraan dengan aman.






