Otoritas Korea Selatan mengambil langkah tegas dengan memutuskan untuk mengurangi hingga menghentikan sementara pelaksanaan sejumlah ujian mengemudi di negara tersebut. Keputusan ini diambil sebagai upaya nyata untuk menekan risiko gangguan kesehatan bagi warga akibat paparan suhu ekstrem yang saat ini tengah melanda. Krisis kesehatan yang dipicu oleh lonjakan suhu udara hingga menembus angka 37 derajat Celsius ini diperkirakan masih akan bertahan dan menyelimuti wilayah Korea Selatan hingga akhir Agustus 2026.
Dampak dari gelombang panas ekstrem ini telah menimbulkan kekhawatiran besar. Berdasarkan data terkini, sedikitnya 12 orang dilaporkan meninggal dunia dan lebih dari 1.000 warga menderita sakit akibat cuaca ekstrem tersebut. Secara keseluruhan, tercatat sebanyak 1.299 orang mengalami gangguan kesehatan terkait paparan panas selama periode ini. Dari total korban yang terdampak, kelompok pekerja di sektor informal yang rentan menjadi pihak yang paling mendominasi dengan persentase mencapai 59,30 persen.
Skala krisis kesehatan kali ini jauh melampaui catatan historis negara tersebut. Pada periode Agustus ini, rata-rata kasus gangguan kesehatan akibat sengatan panas yang tercatat mencapai sekitar 638 kasus. Jumlah ini melonjak hampir tiga kali lipat jika dibandingkan dengan rata-rata kasus pada periode tahun 2011 hingga 2015, yang kala itu hanya mencatatkan rata-rata 215 kasus. Kenaikan drastis ini menunjukkan betapa parahnya paparan suhu panas yang terjadi belakangan ini.
Otorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi Sorotan

Menurut laporan dari Badan Meteorologi Korea (KMA) yang dilansir oleh kantor berita Yonhap pada Minggu (9/8), suhu udara pada siang hari di berbagai wilayah Korea Selatan diproyeksikan akan tetap berkisar antara 31 hingga 35 derajat Celsius. Namun, di tengah kepungan suhu panas tersebut, KMA juga memperkirakan bahwa beberapa wilayah di Korea Selatan akan mengalami hujan lebat dalam waktu dekat.
Wilayah pesisir timur dan kawasan pegunungan di Provinsi Gangwon menjadi daerah yang berpotensi menerima curah hujan paling tinggi, dengan intensitas mencapai hingga 100 milimeter. Sementara itu, wilayah ibu kota Seoul beserta beberapa kawasan di bagian tengah Korea Selatan diperkirakan akan diguyur hujan dengan intensitas yang lebih rendah, yakni hingga 40 milimeter.
Ketentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKN

Kondisi cuaca ekstrem di Korea Selatan ini terjadi di tengah dinamika iklim regional Asia Timur yang juga sedang bergejolak. Di Jepang, Topan Dolphin dilaporkan telah menerjang wilayah Okinawa, menyebabkan enam orang mengalami luka-luka serta memicu pemadaman listrik secara luas. Sementara itu, Tiongkok juga mulai bersiap menghadapi pendaratan badai dengan menutup pelabuhan-pelabuhan penting mereka. Secara global, siklon tropis seperti badai dan topan memang dikenal sebagai bencana alam yang sangat mematikan. Dalam kurun waktu 50 tahun, bencana jenis ini telah merenggut lebih dari 700.000 jiwa dan mengakibatkan kerugian ekonomi global hingga mencapai US$1,4 triliun atau setara dengan kurang lebih Rp25.000 triliun.
Menanggapi situasi cuaca panas dan fenomena El Nino yang melanda secara luas, Prof Tjandra Yoga Aditama turut mengingatkan masyarakat akan adanya peningkatan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Di sisi lain, meskipun dihadapkan pada tantangan iklim dan suhu ekstrem, pemerintah Korea Selatan tetap merencanakan kelanjutan proyek infrastruktur penting, termasuk melanjutkan pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Seoul dengan Kota Wonsan di Korea Utara yang sempat terhenti selama 10 tahun.






