Dunia menyaksikan sebuah paradoks besar di Timur Tengah saat ini. Di satu sisi, harapan perdamaian membubung setelah Amerika Serikat dan Iran membuka kembali pintu diplomasi untuk meredakan ketegangan. Namun di sisi lain, deru mesin perang masih nyaring terdengar di lapangan, ditandai dengan serangan pesawat tanpa awak yang menyasar infrastruktur energi vital di Arab Saudi. Situasi ini menunjukkan betapa rapuhnya batas antara meja perundingan dan konfrontasi bersenjata di kawasan geopolitik paling sensitif tersebut.








