Cuaca buruk yang melanda perairan Gresik-Bawean memaksa seorang warga Pulau Bawean mengambil langkah darurat demi menyelamatkan nyawa ibunya. H Ridwan, seorang pengusaha yang berasal dari Desa Sungaiteluk, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, harus merogoh kocek hingga Rp110 juta untuk menyewa pesawat. Langkah ini diambil guna mengevakuasi ibunya, Minasuha, yang membutuhkan perawatan medis lanjutan ke rumah sakit di Surabaya, Jawa Timur.
Keputusan evakuasi medis darurat melalui jalur udara ini terpaksa ditempuh akibat menipisnya persediaan oksigen medis di RSUD Umar Mas'ud Bawean. Kelangkaan pasokan vital ini dipicu oleh terhentinya operasional kapal logistik yang biasa menyuplai kebutuhan di wilayah tersebut. Gelombang laut yang tinggi di jalur penyeberangan Gresik-Bawean membuat kapal-kapal barang tidak dapat berlayar, sehingga distribusi logistik kesehatan menjadi terhambat.
Sebelum akhirnya dievakuasi, Minasuha telah menjalani perawatan intensif selama lima hari di RSUD Umar Mas'ud Bawean. Perawatan tersebut terdiri atas dua hari di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan tiga hari di ruang Intensive Care Unit (ICU). Ketika kondisi sang ibu membutuhkan pasokan oksigen yang stabil sementara stok di rumah sakit terus menyusut, H Ridwan menyadari bahwa waktu mereka sangat terbatas. H Ridwan menyatakan bahwa jika tidak segera dirujuk ke Surabaya, pasokan oksigen yang digunakan ibunya diperkirakan hanya akan bertahan hingga hari Minggu sore.
Otorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi Sorotan

Pada hari Sabtu (1/8), Minasuha akhirnya diterbangkan dari Bandara Harun Thohir Bawean menuju Bandara Juanda Surabaya. Evakuasi udara tersebut dilakukan dengan menggunakan pesawat Susi Air yang disewa secara penuh tanpa adanya penumpang lain. H Ridwan menjelaskan bahwa proses sewa pesawat langsung ke Susi Air tersebut membutuhkan biaya sebesar Rp110 juta. Namun, ia juga menambahkan bahwa uang saja tidak cukup untuk melakukan evakuasi ini. Pihak keluarga harus memenuhi semua formulir serta persyaratan medis yang diwajibkan terlebih dahulu sebelum penerbangan dapat dilakukan, belum lagi dengan adanya biaya-biaya lainnya yang harus dikeluarkan selama proses tersebut.
Terhambatnya pasokan logistik akibat cuaca buruk ini juga dibenarkan oleh pihak berwenang di tingkat kabupaten. Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, drg Setyo Susilo, menjelaskan bahwa kapal menuju Bawean memang tidak beroperasi sejak 28 Juli hingga 4 Agustus akibat cuaca buruk. Situasi ini menyebabkan pengiriman logistik kesehatan, termasuk pasokan oksigen medis, sama sekali tidak dapat dilakukan.
Ketentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKN

Menyikapi persediaan oksigen yang menipis di RSUD Umar Mas'ud Bawean pada rentang tanggal 1 hingga 3 Agustus, Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik segera mengambil tindakan dengan menyiapkan pengiriman darurat sebanyak 40 tabung oksigen medis. Selain pengiriman darurat tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik juga telah menyiapkan pasokan lanjutan sebanyak 80 tabung oksigen medis. Pasokan tambahan ini disiapkan agar dapat segera diberangkatkan menuju Pulau Bawean setelah kapal barang atau kapal kargo kembali diizinkan untuk berlayar dari Pelabuhan Sidayu.
Dalam upaya menjaga ketersediaan logistik kesehatan di pulau tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik melakukan koordinasi secara intensif dengan berbagai pihak. Koordinasi tersebut melibatkan Dinas Perhubungan, pihak Syahbandar, serta pihak-pihak terkait lainnya yang berada di wilayah Paciran dan Lamongan. Sebagai langkah antisipasi jika cuaca buruk terus berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama, pihak dinas kesehatan juga telah menyiapkan skenario distribusi darurat yang bekerja sama dengan Koarmada II TNI AL agar pasokan oksigen dan kebutuhan medis lainnya tetap dapat dikirimkan ke Bawean.






