Kehidupan normal warga Nusa Tenggara Timur (NTT) seketika berubah sejak gempa bumi mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/8/2026). Kini, ribuan warga terpaksa bertahan hidup di tenda darurat di tengah ancaman gempa susulan yang terus terjadi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 9.488 gempa susulan telah terjadi hingga Sabtu (29/8/2026) pukul 17.00 WIB.
Perubahan drastis ini dirasakan langsung oleh Rahmat Eko Mulyati (40), seorang warga Labuan Bajo, Manggarai Barat. Sebelum bencana melanda, Eko menggantungkan hidup keluarganya dari usaha ayam pedaging. Namun, setelah gempa merusak usahanya, ia bersama keluarga memilih mengungsi ke tenda darurat bersama tetangga.
Tanpa adanya bantuan dari pemerintah, Eko memutar otak untuk menyambung hidup dan membiayai dua anaknya yang bersekolah di Ende. Ia kini memproduksi keripik pisang dan singkong untuk dititipkan ke warung-warung serta toko kue. Eko membuat tiga varian rasa, yaitu pisang cokelat, pisang original, dan singkong pedas manis, yang dijual dengan harga berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000 per bungkus.
Gas Bocor Picu Ledakan di Bekasi, 6 Orang Sekeluarga Terluka

Kondisi serupa dialami oleh Fitri Tuti Darwanti (36), warga Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Akibat guncangan yang terus-menerus, rumah Fitri mengalami keretakan parah sehingga tidak aman untuk ditinggali. Fitri dan keluarganya kini tinggal di tenda pengungsian darurat yang didirikan tepat di samping rumah mereka. Untuk kebutuhan makan sehari-hari, mereka sepenuhnya bergantung pada bantuan logistik yang datang, termasuk kiriman nasi bungkus dalam beberapa hari terakhir.
Secara keseluruhan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan akumulasi jumlah pengungsi di NTT telah mencapai 175.909 jiwa. Meski demikian, beberapa pengungsi mulai kembali ke rumah masing-masing, seperti yang terjadi di Kabupaten Sikka di mana 712 pengungsi dilaporkan telah meninggalkan pos pengungsian.
Sidang Mekanisme Pemilihan Ketum PBNU Alot, Gus Ipul, Tertib, Tak Ada Susupan

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan bahwa bencana ini telah menyebabkan 111 orang meninggal dunia. Korban jiwa terbanyak berada di Kabupaten Manggarai dengan 45 korban, disusul Manggarai Timur dengan 38 korban, dan Nagekeo sebanyak 13 korban. Dari keseluruhan korban meninggal, 56,4 persen merupakan perempuan dan 43,6 persen laki-laki, dengan proporsi usia didominasi oleh kelompok lansia sebesar 45 persen dan usia dewasa sebanyak 37 persen.






