Pemerintah Indonesia terus berupaya mempererat hubungan kerja sama bilateral dengan pemerintah India di berbagai bidang pembangunan, termasuk dalam penguatan data dan statistik nasional. Langkah nyata ini dilakukan sebagai bentuk implementasi langsung atas arahan Presiden Republik Indonesia untuk memperkuat hubungan bilateral kedua negara. Arahan tersebut merupakan tindak lanjut penting pasca kunjungan kenegaraan yang dilakukan oleh Perdana Menteri India, Narendra Modi, ke Indonesia pada awal Juli lalu.
Salah satu wujud nyata dari penguatan hubungan bilateral ini adalah kolaborasi yang dijalin erat antara Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia dengan mitra statistiknya di India, yaitu Ministry of Statistics and Programme Implementation (MoSPI). Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, menghadiri secara langsung agenda penting Meeting of Heads of National Statistical Offices (NSOs) of BRICS Countries yang diselenggarakan di Lucknow, India. Di sela-sela pertemuan internasional tersebut, Kepala BPS RI berkesempatan untuk melakukan pertemuan bilateral khusus dengan Sekretaris Jenderal MoSPI India, Saurabh Garg.
Dalam pertemuan bilateral tersebut, pemimpin kedua kantor statistik nasional (NSO) sepakat untuk menandatangani dokumen kerja sama berupa Letter of Intent (LOI). Penandatanganan LOI ini merupakan bentuk komitmen kuat dan nyata dari kedua NSO untuk memperkuat kerja sama kelembagaan di bidang statistik. Melalui kesepakatan tertulis ini, kedua belah pihak berkomitmen untuk saling mendukung dalam meningkatkan kualitas serta kapabilitas statistik nasional di masing-masing negara.
Otorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi Sorotan

Dokumen kerja sama kelembagaan yang ditandatangani oleh pihak BPS RI dan MoSPI India ini mencakup berbagai ruang lingkup kerja sama yang cukup luas. Ruang lingkup kerja sama tersebut meliputi pengembangan kapasitas sumber daya manusia di kedua lembaga, pertukaran metodologi dan praktik baik, serta transformasi digital statistik. Selain itu, kesepakatan ini juga mencakup penyelenggaraan pelatihan bersama serta berbagai bentuk kolaborasi teknis lainnya yang dinilai relevan bagi kemajuan kedua lembaga.
Secara lebih spesifik, BPS dan MoSPI berencana untuk menjalin kerja sama erat dalam pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi kecerdasan buatan ini direncanakan akan digunakan untuk membantu proses diseminasi statistik agar informasi dapat tersebar secara lebih optimal. Tidak hanya itu, kedua lembaga statistik ini juga akan bekerja sama dalam mengembangkan digitalisasi proses bisnis statistik guna meningkatkan efisiensi operasional pengolahan data di masa mendatang.
Ketentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKN

Transformasi digital ini juga akan menyasar langsung pada platform pengumpulan data yang dimiliki oleh masing-masing lembaga. Saat ini, BPS telah mengoperasikan platform digital bernama FASIH yang digunakan khusus untuk pengumpulan data serta pengecekan kualitas data di lapangan. Di sisi lain, MoSPI India juga memiliki dan mengoperasikan platform digital serupa yang dinamakan e-SIGMA. Melalui kemitraan baru ini, BPS dan MoSPI akan saling bertukar pengalaman guna melakukan modernisasi pada platform digital FASIH dan e-SIGMA tersebut.
Upaya penguatan kualitas data dan statistik ini menjadi sangat penting, terutama dalam memotret kondisi riil ketenagakerjaan di Indonesia secara akurat. Berdasarkan data statistik nasional, kondisi ketenagakerjaan di Indonesia saat ini masih didominasi oleh pekerja di sektor informal yang rentan, dengan porsi persentase mencapai 59,30 persen. Ketersediaan data yang akurat dan metodologi statistik yang kuat melalui kerja sama internasional ini diharapkan dapat mendukung penyediaan data berkualitas tinggi bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan terkait tenaga kerja tersebut.






