Badan Gizi Nasional (BGN) secara resmi menjatuhkan sanksi pemberhentian sementara atau suspend terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi. Keputusan penangguhan operasional ini diambil setelah terjadinya insiden keracunan massal yang bersumber dari program makanan bergizi gratis (MBG) di Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Langkah penertiban ini dilakukan untuk memastikan keselamatan para penerima manfaat program sembari penyelidikan mendalam berjalan.
Berdasarkan laporan resmi dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, tercatat sebanyak 707 orang diduga mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi hidangan MBG pada hari Jumat, 31 Juli 2026. Korban dalam peristiwa ini didominasi oleh lingkungan sekolah, yang terdiri dari 693 siswa dan 14 guru dari SMK Negeri 6 Semarang. Mayoritas korban yang terdampak dilaporkan mengeluhkan gejala gangguan pencernaan dan kondisi fisik yang melemah, seperti pusing, mual, muntah-muntah, hingga diare.
Dari ratusan orang yang mengalami gejala keracunan tersebut, sebanyak 13 korban harus mendapatkan perawatan medis lebih lanjut di beberapa rumah sakit serta pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Menanggapi situasi darurat ini, Kepala BGN Sudaryono turun langsung ke lapangan untuk memantau penanganan para korban pada hari Sabtu, 1 Agustus 2026. Dalam kunjungan tersebut, Sudaryono menyambangi sejumlah fasilitas kesehatan di Kota Semarang yang merawat para pasien, termasuk di antaranya RS Permata Medika, RS Bhakti Tamtama, dan RS Pantiwilasa Citarum.
Otorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi Sorotan

Terkait penyebab keracunan, investigasi awal yang dilakukan oleh pihak BGN menduga bahwa insiden ini dipicu oleh beberapa faktor teknis dalam penyediaan makanan. Dugaan sementara mengarah pada penggunaan bahan makanan tertentu serta waktu memasak yang dilakukan terlalu dini sebelum makanan didistribusikan ke sekolah. Secara lebih spesifik, bahan makanan yang kini dicurigai menjadi pemicu keracunan tersebut adalah menu yang menggunakan daun singkong serta bumbu rendang.
Kendati demikian, pihak berwenang menegaskan bahwa kepastian mengenai penyebab keracunan masih harus menunggu hasil pengujian ilmiah. Proses pemeriksaan laboratorium terhadap sampel bahan makanan yang digunakan saat ini sedang berjalan, dan diperkirakan membutuhkan waktu setidaknya 5 hingga 7 hari kerja untuk mendapatkan hasil analisis yang akurat. Selama masa pemeriksaan ini, operasional SPPG Karangturi akan tetap dibekukan demi menghindari risiko lebih lanjut.
Ketentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKN

Sebagai langkah evaluasi dan perbaikan sistem secara menyeluruh, BGN saat ini tengah mempercepat implementasi sistem pemantauan digital. Sistem ini dirancang untuk mendokumentasikan serta mengawasi setiap tahapan dalam proses produksi makanan secara ketat. Melalui platform digital ini, seluruh proses mulai dari penentuan menu, penggunaan bahan pangan dan bumbu, hingga pencatatan waktu memasak dapat dipantau secara langsung dan transparan guna mencegah kesalahan prosedur di masa mendatang.
Di samping itu, Sudaryono juga meminta adanya kolaborasi pengawasan yang lebih ketat dari berbagai elemen masyarakat. Ia mengharapkan peran aktif dari dinas kesehatan, jajaran guru, hingga orang tua siswa untuk ikut serta mengawasi kualitas dan higienitas menu MBG yang dimasak di dapur SPPG. BGN menyatakan tidak akan segan-segan mengambil tindakan yang lebih keras dan tegas apabila hasil akhir investigasi nantinya membuktikan adanya unsur kelalaian atau pelanggaran regulasi yang dilakukan oleh pihak SPPB.






