Langkah tegas diambil oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) dalam meningkatkan sistem keamanan dan ketertiban di sektor penyeberangan laut. Mulai Rabu (5/8), BUMN pengelola pelabuhan ini resmi menerapkan program sterilisasi pelabuhan secara penuh di enam pelabuhan utama di Indonesia. Langkah ini dilakukan secara serentak di lima cabang operasional ASDP setelah sebelumnya melewati masa transisi yang diawali dengan peluncuran awal atau soft launching pada 20 Juli 2026.
Kebijakan sterilisasi ini menyasar enam pelabuhan vital yang menjadi urat nadi transportasi antarpulau, yaitu Pelabuhan Merak, Bakauheni, Ketapang, Gilimanuk, Kayangan, dan Lembar. Penerapan aturan baru ini dipimpin langsung oleh Direktur Utama ASDP Heru Widodo serta didukung oleh Corporate Secretary ASDP Windy Andale. Langkah ini menjadi momentum penting bagi peningkatan kualitas pelayanan dan pengawasan di kawasan pelabuhan.
Penerapan sterilisasi pelabuhan ini merupakan perwujudan konkret dari implementasi penuh Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 91 Tahun 2021. Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Banten, Eko Indrayanto, menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap regulasi ini. Menariknya, implementasi penuh ini baru dapat terlaksana setelah kurang lebih lima tahun sejak peraturan menteri tersebut pertama kali diterbitkan pada tahun 2021. Jeda waktu yang cukup lama ini menunjukkan tantangan tersendiri dalam menyelaraskan kesiapan infrastruktur dan koordinasi lintas instansi sebelum standar keselamatan nasional ini benar-benar diterapkan secara menyeluruh.
Otorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi Sorotan

Di Pelabuhan Merak, proses sterilisasi diwujudkan melalui penertiban berbagai aktivitas di kawasan operasional. Pihak manajemen melakukan pendataan ulang terhadap seluruh pihak yang beraktivitas di dalam pelabuhan serta menata para pedagang agar wajib menggunakan identitas resmi. Selain memperkuat sistem pengawasan, ASDP juga mengoptimalkan penggunaan One Gate System (OGS) dan Automatic Gate System. Optimalisasi teknologi ini terbukti memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi logistik, di mana waktu pelayanan truk berhasil dipangkas dari yang semula membutuhkan waktu sekitar 10 hingga 15 menit, kini menjadi hanya 1 hingga 2 menit saja.
Sementara itu, di Pelabuhan Bakauheni yang menjadi gerbang masuk Pulau Sumatra, fokus sterilisasi diarahkan pada penataan jalur lalu lintas kendaraan untuk menghindari penumpukan. ASDP juga membangun kantong parkir khusus untuk kendaraan roda dua, menyempurnakan rambu-rambu serta media informasi bagi pengguna jasa, serta mengoptimalkan sistem pengendalian akses masuk pelabuhan.
Ketentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKN

Untuk lintas penyeberangan Ketapang-Gilimanuk yang menghubungkan Pulau Jawa dan Bali, penguatan kepatuhan operasional dilakukan secara kolaboratif. ASDP menggandeng berbagai pihak untuk melakukan sosialisasi kepada seluruh pemangku kepentingan, melakukan pengawasan ketat terhadap penggunaan alat pelindung diri (APD), serta menggelar patroli gabungan secara rutin. Kawasan ini juga menerapkan sistem zonasi yang ketat, di mana akses masuk ke area operasional pelabuhan kini dibatasi hanya bagi petugas yang memiliki kepentingan resmi.
Pendekatan berbasis teknologi canggih diterapkan di Pelabuhan Kayangan dan Lembar. Di kedua pelabuhan tersebut, pengendalian akses masuk diperkuat dengan menggunakan teknologi pengenalan wajah atau face recognition. Penerapan teknologi ini diharapkan dapat meminimalkan potensi pelanggaran akses oleh pihak-pihak yang tidak berkepentingan, sekaligus mempercepat proses verifikasi di pintu masuk pelabuhan. Dengan berbagai metode yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing pelabuhan, ASDP berupaya memastikan standar keselamatan nasional dapat terjaga dengan konsisten di seluruh wilayah operasionalnya.






