Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah masih berada di tingkat yang cukup tinggi. Hingga saat ini, aktivitas gunung berapi tersebut terpantau berupa erupsi efusif yang berkelanjutan. Berdasarkan tingkat aktivitasnya, status Gunung Merapi masih ditetapkan pada level "SIAGA" (Level III).
Dalam periode pengamatan sepekan yang berlangsung sejak Jumat (31/7) hingga Kamis (6/8), BPPTKG mencatat telah terjadi 117 kali awan panas guguran. Meskipun intensitasnya cukup tinggi, jarak luncur dari awan panas guguran tersebut dilaporkan tidak teramati secara visual. Selain awan panas, Gunung Merapi juga terpantau terus mengeluarkan asap berwarna putih dengan intensitas ketebalan dari tipis hingga tebal. Asap bertekanan lemah tersebut membubung dengan ketinggian yang bervariasi antara 10 meter hingga 250 meter dari puncak.
Selama sepekan pengamatan tersebut, guguran lava juga terpantau meluncur ke beberapa hulu sungai yang berpusat di Gunung Merapi. Secara terperinci, guguran lava teramati sebanyak 64 kali mengarah ke hulu Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter. Selanjutnya, terdapat 27 kali guguran lava ke arah hulu Kali Krasak dengan jarak maksimum 2.000 meter, 18 kali ke arah hulu Kali Boyong dengan jarak maksimal 2.000 meter, serta 8 kali ke arah hulu Kali Bebeng dengan jarak luncur sejauh maksimum 1.600 meter.
Otorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi Sorotan

BPPTKG juga melakukan pemantauan terhadap morfologi kubah lava Gunung Merapi. Berdasarkan hasil survei menggunakan drone pada 1 Agustus 2026, analisis foto udara menunjukkan bahwa volume Kubah Barat Daya mengalami peningkatan sekitar 18.400 meter kubik, sehingga total volumenya kini mencapai 4.039.600 meter kubik. Di sisi lain, volume Kubah Tengah tidak dapat diukur secara akurat karena sebagian besar visualnya terhalang oleh asap tebal. Kendati demikian, analisis foto termal menunjukkan bahwa suhu kedua kubah tersebut berada pada angka 243 derajat Celsius dan dinilai relatif stabil dibandingkan dengan pengukuran sebelumnya.
Dari sisi kegempaan, jaringan seismik BPPTKG mencatat aktivitas yang lebih tinggi dibandingkan pekan sebelumnya. Sepanjang periode pengamatan mingguan tersebut, tercatat terjadi 1 kali gempa Awan Panas Guguran (APG), 84 gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 614 gempa Fase Banyak (MP), 692 gempa Guguran (RF), serta 15 gempa Tektonik (TT). Meskipun aktivitas kegempaan meningkat, laporan dari Pos Pengamatan Gunung Merapi menunjukkan tidak adanya hujan yang terjadi di pos tersebut, dan tidak ada laporan mengenai penambahan aliran maupun lahar pada sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi selama pekan tersebut.
Ketentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKN

Selain pengamatan mingguan di awal Agustus tersebut, BPPTKG juga mencatat fluktuasi aktivitas pada periode lainnya. Sebagai contoh, pada pekan yang berlangsung dari Jumat (27/9) hingga Kamis (3/10), seismograf di pos-pos pengamatan mencatat puncak Gunung Merapi diguncang sebanyak 1.026 kali gempa, yang didominasi oleh gempa guguran sebanyak 963 kali. BPPTKG Yogyakarta sebelumnya juga sempat melaporkan kejadian awan panas guguran pada Senin (22/7) pukul 04.04 WIB. Di samping itu, sempat tercatat pula akumulasi sebanyak 43 guguran lava dari Gunung Merapi yang terjadi dalam kurun waktu 12 jam. Pada pengamatan harian lainnya yang dilakukan antara pukul 00:00 hingga 06:00 WIB, guguran lava Gunung Merapi terpantau meluncur ke arah Kali Bebeng.
Di tengah tingginya aktivitas vulkanik ini, kesiapan masyarakat di sekitar lereng Merapi menjadi perhatian penting. Terlebih lagi, data menunjukkan bahwa pekerja sektor informal yang rentan masih mendominasi di wilayah tersebut dengan persentase mencapai 59,30%. Kondisi ekonomi masyarakat yang didominasi sektor informal ini memerlukan perhatian khusus dari pemerintah daerah setempat dalam merumuskan mitigasi bencana yang komprehensif agar tidak mengganggu mata pencaharian warga secara drastis saat terjadi peningkatan aktivitas gunung api.






