Federasi Sepak Bola Kerajaan Belanda (KNVB) secara resmi menunjuk Xavi Hernandez sebagai pelatih kepala Tim Nasional Belanda pada 12 Agustus 2026. Mantan juru taktik Barcelona ini datang menggantikan posisi Ronald Koeman yang memutuskan mundur setelah De Oranje tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Menariknya, ini menjadi kali kedua Xavi menggantikan posisi Koeman, setelah sebelumnya melakukan hal yang sama di kursi kepelatihan Barcelona. Penunjukan ini menempatkan Xavi di Pusaran Tiki-Taka Barcelona & Total Football Belanda, dua filosofi sepak bola yang memiliki keterikatan sejarah yang sangat kuat.
Langkah KNVB memilih pelatih asal Spanyol ini terbilang menarik karena sejumlah nama lokal sempat masuk dalam bursa calon. Nigel De Jong, mantan gelandang yang kini menjabat sebagai Director of Elite Football KNVB, kabarnya sempat mempertimbangkan beberapa kandidat lain seperti Arne Slot, Ruud van Nistelrooy, Erik ten Hag, hingga Robin van Persie. Namun, keputusan akhir tetap jatuh kepada Xavi, yang diharapkan mampu menyuntikkan energi baru ke dalam skuad nasional Belanda.
Persiapan Timnas Indonesia Menghadapi SEA Games 2025 di Thailand

Hubungan taktis antara Barcelona dan Belanda memiliki akar sejarah yang sangat panjang. Situs resmi UEFA mencatat Rinus Michels sebagai arsitek utama di balik lahirnya konsep total football. Michels, yang sukses besar saat melatih Ajax Amsterdam sejak 1965 dengan raihan empat trofi Liga Belanda, tiga Piala KNVB, dan satu gelar Liga Champions, juga membawa Belanda menjadi runner-up Piala Dunia 1974 setelah kalah dari Jerman Barat di final. Di level klub, ia sempat melatih Barcelona pada periode 1971-1975 dan 1976-1978. Pengaruh taktik Belanda ini dilanjutkan oleh Johan Cruyff yang mempersembahkan 11 gelar selama melatih Barcelona pada 1988-1996, sebelum akhirnya dievolusikan oleh Pep Guardiola menjadi gaya tiki-taka pada era 2008-2012. Bahkan, hubungan historis Belanda juga sempat menjangkau Indonesia melalui mantan pemain nasional mereka, Wim Rijsbergen, yang melatih Timnas Indonesia pada era 2011-2012.
Sebagai pemain, Xavi merupakan salah satu produk terbaik dari sistem taktis tersebut. Di bawah arahan Guardiola di Barcelona, ia memainkan 208 pertandingan dengan sumbangan 36 gol dan 82 asis. Sepanjang kariernya sebagai pemain, ia mengoleksi 33 gelar juara, termasuk 29 trofi bersama Barcelona dan deretan prestasi internasional bersama Timnas Spanyol seperti Piala Dunia 2010, Euro 2008 dan 2012, serta FIFA World Youth Championship 1999. Sebelum melatih Belanda, Xavi juga mencatatkan prestasi kepelatihan di Qatar bersama Al Sadd pada 2019-2021, termasuk gelar Qatar Stars League 2020-21 yang membuatnya terpilih sebagai Pelatih Terbaik Liga Qatar musim tersebut, serta mempersembahkan gelar LaLiga 2022-23 dan Supercopa de Espa帽a 2023 untuk Barcelona.
Jadwal Turnamen Bulu Tangkis BWF 2025-2026 dan Agenda Skuad Indonesia

Meskipun demikian, transisi taktis ini tidak luput dari tantangan dan keraguan. Sebagian pengamat mempertanyakan keselarasan gaya bermain Xavi dengan pakem sepak bola Belanda yang akarnya dapat ditarik hingga era kepelatihan Jack Reynolds di Ajax Amsterdam pada periode 1945-1947. Publik kini menanti apakah kolaborasi taktis ini akan melahirkan inovasi baru atau justru memicu benturan filosofi di tubuh tim nasional Belanda yang tengah berupaya bangkit dari keterpurukan pasca-Piala Dunia 2026.






