Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) diguncang gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,0 pada hari Sabtu pagi, 15 Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa gempa bumi ini terjadi tepat pada pukul 04.58.23 WIB. Guncangan kuat dari gempa ini telah menyebabkan dampak yang cukup serius, termasuk jatuhnya korban jiwa dan luka-luka di wilayah terdampak. Awalnya, BMKG mendeteksi gempa dengan kekuatan Magnitudo 7,7, namun data tersebut kemudian dimutakhirkan oleh BMKG menjadi Magnitudo 7,0. Gempa bumi ini berpusat di wilayah perairan dekat Kabupaten Nagekeo, NTT.
Berdasarkan informasi resmi dari BMKG, pusat gempa bumi atau episenter terdeteksi berada di laut. Lokasinya terletak sekitar 38 kilometer di sebelah timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Gempa bumi ini tercatat memiliki kedalaman pusat gempa sedalam 10 kilometer. Terkait dengan peristiwa ini, Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, memberikan keterangan mengenai riwayat gempa besar di wilayah Nusa Tenggara Timur. Wijayanto menuturkan bahwa gempa bumi dengan kekuatan yang lebih besar sebenarnya pernah mengguncang wilayah NTT pada 34 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1992. Pada saat itu, gempa yang terjadi berkekuatan Magnitudo 7,5.
Rumah Eks Menkominfo Johnny Plate Ambruk Akibat Gempa NTT, Tiga Orang Terjebak

Dalam sesi konferensi pers yang diadakan di kantor BMKG pada hari Sabtu, 15 Agustus 2026, Wijayanto menjelaskan lebih lanjut mengenai siklus aktivitas seismik tersebut. Wijayanto mengungkapkan bahwa peristiwa gempa besar ini kembali terulang setelah 30 tahun berlalu. "Setelah 30 tahun terjadi lagi (hari ini)," ungkap Wijayanto di hadapan para wartawan. Selain memaparkan data sejarah kegempaan, pihak BMKG juga memberikan imbauan penting demi keselamatan warga di lokasi bencana. Wijayanto mengingatkan masyarakat setempat untuk terus waspada terhadap potensi munculnya gempa bumi susulan yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Warga juga secara khusus diminta untuk menjauhi gedung-gedung yang berada dalam kondisi ambruk agar terhindar dari bahaya runtuhan lebih lanjut.
Dampak fatal dari gempa bumi ini dilaporkan terjadi di Kabupaten Sikka, NTT, khususnya di area Pelabuhan Lorens Say Maumere. Kepala SAR Maumere, Fathur Rahman, mengonfirmasi bahwa terdapat dua orang warga di Maumere yang meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan di area pelabuhan tersebut. Selain korban meninggal dunia, terdapat lima orang lainnya yang dilaporkan mengalami luka-luka akibat peristiwa tersebut. Fathur Rahman menjelaskan bahwa pada saat gempa bumi terjadi, ratusan calon penumpang tertimpa reruntuhan ketika mereka sedang berada di dalam ruang tunggu Pelabuhan Lorens Say Maumere. Pada saat peristiwa guncangan gempa itu terjadi, kebetulan terdapat jadwal kapal Pelni yang hendak bersandar di pelabuhan.
Menakar Progres dan Target Proyek Normalisasi Sungai Ciliwung

Evakuasi segera dilakukan oleh tim penyelamat terhadap para korban yang tertimpa reruntuhan bangunan di pelabuhan. Mengenai kondisi para korban meninggal dunia, Fathur Rahman memaparkan rinciannya bahwa salah satu korban dilaporkan meninggal dunia di rumah sakit setelah berhasil dievakuasi dari tempat kejadian. Sementara itu, satu korban meninggal dunia lainnya ditemukan sudah dalam keadaan tidak bernyawa di bawah reruntuhan gedung pelabuhan yang ambruk akibat guncangan keras gempa Magnitudo 7,0 tersebut. Upaya penanganan pascabencana dan pemantauan terus dilakukan oleh pihak-pihak terkait guna memastikan keselamatan warga di sekitar wilayah terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur.






