Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan baru-baru ini memberikan peringatan serius mengenai ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring dengan proyeksi fenomena El Nino kuat yang melanda Indonesia. Di lapangan, dampak kekeringan mulai terasa nyata. Penanganan karhutla di Kelurahan Sei Guntung Hilir, Kecamatan Rengat, Kabupaten Inhu, bahkan telah memasuki hari ke-14. Kondisi serupa juga meningkatkan potensi kebakaran lahan di beberapa wilayah Balikpapan. Di perkotaan, kualitas udara ikut memburuk. Sebagai contoh, kualitas udara Jakarta sempat tercatat tidak sehat dengan indeks kualitas udara (AQI) mencapai 156 hingga menempati peringkat keenam terburuk di dunia, sementara IQAir merekam konsentrasi PM 2,5 yang tinggi di angka 181 poin.
Kondisi lingkungan yang memburuk ini berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Data Kementerian Kesehatan yang disampaikan oleh Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik, Aji Muhawarman, menunjukkan bahwa angka kunjungan pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di rumah sakit mencapai 676.404 kunjungan sepanjang periode Januari hingga Juli 2026. Di Semarang, tercatat sekitar 20.000 warga terserang ISPA akibat polusi udara. Hubungan antara kebersihan udara dan kesehatan ini juga ditegaskan oleh Guru Besar FKM UI, Prof. Budi Haryanto, yang menyatakan bahwa 60 persen penyakit berkaitan erat dengan polusi udara.
Bukan Cuma Pejabat, Teman-Teman Bobby Kertanegara Juga Diundang Upacara HUT RI

Dalam situasi cuaca panas ekstrem dan peningkatan polusi udara selama musim kemarau, risiko penularan ISPA meningkat tajam, terutama bagi kelompok yang rentan. Dokter spesialis paru dari RSUP Persahabatan, Feni Fitriani Taufik, menjelaskan bahwa iritasi akibat debu dapat menurunkan daya tahan saluran pernapasan serta memicu inflamasi. Hal inilah yang membuat seseorang menjadi lebih mudah tertular ISPA. Menurutnya, individu yang memiliki daya tahan tubuh rendah memiliki peluang jauh lebih besar untuk mengalami gangguan kesehatan ketika terpapar polusi udara.
Sebagai langkah antisipasi untuk menghadapi ancaman kesehatan ini, kampanye mengenai Waspada ISPA di Musim Kemarau, Begini Cara Jaga Daya Tahan Tubuh menjadi sangat relevan bagi masyarakat luas. Dokter spesialis anak, Dr. dr. Nastiti Kaswandani, membagikan kiat perlindungan diri guna meminimalkan risiko penularan penyakit saluran pernapasan ini. Langkah utama yang harus dilakukan adalah menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), memastikan tubuh mendapatkan istirahat yang cukup, serta mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang yang kaya akan buah dan sayuran. Saat kualitas udara di sekitar lingkungan memburuk, konsumsi suplemen vitamin dan antioksidan sangat disarankan untuk membantu menjaga imunitas tubuh.
HUT RI ke-81, Pramono Tegaskan Komitmen Bangun Jakarta Maju & Inklusif

Selain menjaga kondisi fisik dari dalam, masyarakat juga diimbau untuk tidak memperburuk kondisi udara luar ruangan. Tindakan pencegahan seperti tidak membakar sampah dan tidak merokok menjadi kontribusi penting dalam menekan tingkat polusi. Bagi kelompok rentan, seperti balita, lanjut usia (lansia), serta penderita penyakit paru dan jantung, perlindungan ekstra sangat dibutuhkan. Lansia memiliki risiko lebih tinggi terkena pneumonia dan mengalami perburukan penyakit kronis akibat paparan udara kotor. Oleh karena itu, penderita penyakit kronis seperti asma wajib mengonsumsi obat-obatan rutin mereka secara teratur selama periode polusi tinggi. Jika gejala seperti batuk, sesak napas, atau demam mulai muncul, kelompok rentan ini disarankan untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Di sisi lain, sebagai langkah jangka panjang menghadapi kekeringan akibat El Nino, Pakar Hidrologi UGM Prof. Agus Maryono juga mengingatkan pentingnya memanen air hujan sebagai solusi preventif bagi ketersediaan air bersih masyarakat.






