Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo telah menetapkan target makroekonomi yang cukup berani untuk tahun 2027. Namun, di tengah optimisme tersebut, pelaku pasar modal menyoroti tantangan eksternal yang membayangi, khususnya pergerakan indeks Dolar AS dan kebijakan suku bunga global yang berpotensi menahan laju penguatan mata uang Garuda hingga akhir tahun 2026.
Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027, pemerintah mematok target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8% hingga 6,5% dengan laju inflasi di kisaran 1,5% hingga 3,5%. Untuk nilai tukar Rupiah, sasaran dipatok pada rentang Rp 16.800 hingga Rp 17.500 per Dolar AS, sementara tingkat suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun ditargetkan berada di kisaran 6,5% hingga 7,3%.
Tantangan Global dan Pengaruh Indeks Dolar AS
Menanggapi target-target tersebut, Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, menilai proyeksi pertumbuhan ekonomi di kisaran 6% dalam RAPBN 2027 tergolong sangat optimistis. Dalam dialog bersama Andi Shalini di CNBC Indonesia pada Jumat (28/08/2026), Rudiyanto memaparkan bahwa pergerakan nilai tukar Rupiah ke depan masih akan sangat bergantung pada posisi indeks Dolar AS.
IHSG Sesi I Ditutup Menguat 0,42% ke Level 6.548,86

Ketidakpastian geopolitik berupa gejolak perang serta lonjakan inflasi global menjadi sentimen utama yang memengaruhi fluktuasi mata uang dan arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral dunia. Apabila Federal Reserve (The Fed) mengubah arah kebijakannya secara tidak terduga, target nilai tukar Rupiah dan imbal hasil SBN yang telah disusun dalam RAPBN 2027 diprediksi akan sulit untuk terealisasi.
Catatan Tata Kelola dan Sektor Potensial
Selain faktor eksternal, pelaku pasar modal di dalam negeri juga memberikan catatan kritis terhadap implementasi program-program unggulan pemerintah. Meskipun dinilai sudah bagus, pelaksanaan dan tata kelola program-program tersebut dinilai masih menghadapi sejumlah hambatan di lapangan.
BEI Luncurkan IDX Green Equity Designation, Tetapkan HGII dan KEEN sebagai Saham Hijau

Sebagai solusi, pelaku pasar menyarankan agar proyek-proyek pemerintah sebaiknya dikelola oleh sektor swasta dengan margin yang sehat serta penerapan tata kelola yang baik. Di sisi lain, pelaku pasar melihat sektor komoditas dan energi masih memiliki potensi pertumbuhan yang kuat untuk menopang perekonomian nasional di tengah ketidakpastian pasar global.






