Pertumbuhan jumlah kendaraan roda dua di Indonesia terus menunjukkan peningkatan pesat. Pemerintah berupaya mendorong transisi energi bersih dan menekan emisi karbon menuju target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Salah satu langkah strategis yang didorong adalah program konversi sepeda motor berbahan bakar minyak (BBM) menjadi sepeda motor listrik. Upaya ini diharapkan dapat menekan konsumsi BBM nasional yang mencapai 1,5 juta barel per hari, dengan sebagian besar dikonsumsi oleh sepeda motor. Saat ini, produksi minyak mentah dalam negeri hanya sekitar 600 ribu barel per hari sehingga Indonesia harus mengimpor sekitar 800 ribu barel per hari.
Tantangan utama program ini adalah besarnya populasi kendaraan roda dua di tanah air. Indonesia menempati posisi ketiga di dunia dengan jumlah sepeda motor terbanyak. Pada tahun 2025, jumlah sepeda motor di Indonesia diproyeksikan mencapai 150 juta unit, dengan rincian 139 juta unit motor BBM, 5 juta unit motor listrik baru, dan 6 juta unit motor hasil konversi. Selain itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa dari sekitar 120 juta motor bensin yang ada saat ini, pemerintah menargetkan konversi bertahap ke motor listrik dalam waktu maksimal tiga hingga empat tahun ke depan.
Gempa Susulan Masih Mengintai, Mendagri Minta Warga NTT Tak Dipaksa Pulang

Untuk mempercepat transisi tersebut, pemerintah telah membentuk satuan tugas (Satgas) khusus setelah mengadakan rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto pada Maret 2026. Pemerintah juga sedang menyiapkan skema bantuan baru karena teknologi konversi saat ini sudah lebih murah, yakni berkisar antara Rp 5 juta hingga Rp 6 juta per unit. Sebelumnya, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 38 Tahun 2023 dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 3 Tahun 2023, pemerintah memberikan insentif sebesar Rp 7 juta dari total biaya konversi yang saat itu diperkirakan mencapai Rp 15 juta hingga Rp 17 juta per unit.
Kendati demikian, realisasi program konversi ini masih menghadapi tantangan berat di lapangan dan dinilai minim peminat. Data Kementerian ESDM menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2023, realisasi konversi hanya mencapai 181 unit dari target awal 50 ribu unit. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar 1.500 unit pada tahun 2024, namun jumlah ini masih jauh dari harapan. Head of Center of Industry, Trade and Investment Indef, Andry Satrio Nugroho, mengungkapkan bahwa rendahnya minat masyarakat disebabkan oleh faktor psikologis konsumen yang ragu merombak motor normal mereka, keterbatasan bengkel konversi, serta standar kualitas yang belum seragam.
Baznas Penuhi Kebutuhan Dasar Korban Gempa NTT

Evaluasi menyeluruh terhadap program ini dinilai sangat mendesak agar target transisi energi dapat tercapai secara optimal. Selain penambahan jumlah bengkel konversi鈥攜ang awalnya ditargetkan mencapai 1.000 bengkel pada akhir tahun 2023鈥攑emerintah juga perlu mempertimbangkan opsi lain seperti skema tukar tambah (trade-in) motor BBM dengan motor listrik baru yang lebih sesuai dengan perilaku konsumen. Melalui perumusan formula insentif baru oleh Satgas yang baru dibentuk, pemerintah diharapkan dapat memberikan solusi nyata bagi ketahanan energi dan masa depan transportasi ramah lingkungan di Indonesia.






