Sebuah penelitian astronomi terbaru berhasil menyingkap fenomena luar biasa di alam semesta jauh yang mengubah pemahaman manusia tentang perilaku objek kosmik raksasa. Studi terbaru mengenai lubang hitam supermasif menunjukkan bahwa hembusan angin yang dihasilkan oleh objek aktif tersebut memiliki kekuatan sekitar 100 kali lebih besar dari perkiraan para ilmuwan sebelumnya. Penelitian yang dipimpin oleh Satoshi Yamada dari Universitas Tohoku, Jepang, ini telah resmi diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature Astronomy pada tanggal 28 Juli 2026. Penemuan ini membuka lembaran baru dalam memahami bagaimana energi luar biasa besar dapat dilepaskan oleh struktur paling masif di alam semesta.
Penyelidikan mendalam ini difokuskan pada H1821+643, sebuah kuasar terang yang terletak di konstelasi Draco. Objek kosmik ini berjarak sangat jauh, yaitu sekitar 3,4 miliaran tahun cahaya dari Bumi, dan posisinya berada tepat di pusat gugus galaksi yang sangat padat. Untuk mengamati objek ini, tim peneliti melakukan pengamatan intensif selama satu pekan pada bulan September 2024. Mereka memanfaatkan satelit sinar-X XRISM (X-Ray Imaging and Spectroscopy Mission) milik Jepang untuk mengumpulkan data penting mengenai karakteristik fisik kuasar tersebut.
Energi yang dilepaskan melalui aliran gas dari lubang hitam supermasif aktif ini sangat mencengangkan. Para ilmuwan memperkirakan bahwa energinya setara dengan ledakan miliaran supernova yang terjadi secara bersamaan. Angin dahsyat yang dihasilkan dari proses ini menciptakan turbulensi hebat pada gas panas di sekitarnya. Dampak dari semburan energi tersebut menyebar sangat luas, hingga mencapai radius 300.000 tahun cahaya dari pusat aktivitasnya. Selama proses pengamatan, para peneliti berhasil melacak jejak atom besi terionisasi di dalam gas panas yang menyelimuti kuasar tersebut untuk memetakan dampak energinya.
Transjakarta Modifikasi Sejumlah Rute Saat HUT ke-81 RI, Ini Daftarnya

Selain kekuatannya yang luar biasa, H1821+643 juga memiliki keunikan lain terkait dengan kecepatan rotasinya. Berdasarkan data dari Observatorium Sinar-X Chandra milik NASA yang diperoleh pada tahun 2022, lubang hitam supermasif ini berputar jauh lebih lambat jika dibandingkan dengan lubang hitam yang berukuran lebih kecil. Para ilmuwan menduga bahwa pertumbuhan ukuran raksasa dari H1821+643 tidak terjadi secara teratur, melainkan melalui serangkaian proses penggabungan (merger) dengan lubang hitam lainnya yang datang dari berbagai arah yang tidak teratur.
Di samping penemuan mengenai lubang hitam supermasif ini, dunia astronomi dan eksplorasi luar angkasa juga diwarnai oleh berbagai perkembangan penting lainnya. Sebagai contoh, tim peneliti dari Tiongkok baru-baru ini merilis peta geologi Bulan terbaru dengan skala 1:5 juta. Peta tersebut mengungkap adanya aktivitas vulkanik di Bulan hingga 2 miliar tahun yang lalu berdasarkan data yang diperoleh dari misi Chang'e. Selain itu, pemahaman kita tentang dinamika Bumi dan Bulan juga terus berkembang, seperti fakta bahwa Bulan bergerak menjauh dari Bumi sekitar 3,8 cm per tahun akibat pengaruh gaya pasang surut.
Pascagempa NTT, Lebih 5.000 Warga Bertahan di Pengungsian

Sementara itu, lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA, juga mencatatkan pencapaian penting dengan sukses menguji misi DART (Double Asteroid Redirection Test) yang dirancang untuk mengubah lintasan asteroid sebagai upaya perlindungan planet. Di sisi lain, NASA juga aktif meluruskan informasi keliru yang beredar di masyarakat. Lembaga tersebut secara resmi membantah klaim viral yang menyatakan bahwa gravitasi Bumi akan menghilang selama 7 detik pada tanggal 12 Agustus 2026. Penjelasan-penjelasan ilmiah ini menegaskan pentingnya data valid dalam memahami fenomena antariksa, baik yang terjadi miliaran tahun cahaya di luar angkasa maupun yang berdampak langsung pada Bumi.






